KEBERSERAHAN DIRI


DAMAI SEJAHTERA

BLOG INI HANYA UNTUK MANUSIA YANG MENDAMBAKAN PERDAMAIAN DUNIA KHUSUSNYA ANAK-ANAK ABRAHAM AGAR TERCIPTANYA SEBUAH SYSTEM KEHIDUPAN KEBERSERAHAN DIRI, DAMAI DAN SEJAHTERAH

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat/firman (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tiada kita abdi kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Laman

Sabtu, 10 April 2010

IBLIS ADALAH UTUSAN TU[H]AN

“Dan ingatlah ketika Kami berfirman KEPADA PARA MALAIKAT: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali IBLIS; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”

Perintah sujud kepada Adam yang difirmankan Tuhan ditujukan kepada para malaikat, bukan yang lainnya. Pada fragmentasi ini hanya ada dua pihak yakni Tuhan, dan para Malaikat. Namun ada sosok yang membangkang atas perintah itu, ia adalah Iblis. Dikarenakan malaikat itu tidak mengerjakan apa yang diperintah Nya, maka ia dikatergorikan oleh Tuhan sebagai iblis.

Tuhan murka kepada iblis karenanya. Tetapi iblis meminta izin Tuhan untuk diberi tangguh sampai pada hari dimana manusia dibangkitkan. Dan karena Tuhan telah mencap iblis sebagai figur yang sesat, maka ia akan menjadikan manusia-manusia yang mengikutinya memandang baik perbuatan maksiat yang mereka lakukan.

Ada dua jalan yang Tuhan sediakan kepada manusia; yakni jalan kebenaran, dan jalan yang dimurkai Nya. Pada jalan kebenaran, manusia2 yang memilihnya dibina hanya oleh Air dari Nya. Dan didalam memperoleh air itu, Ia mengutus seseorang yang dipilihnya sebagai figur yang dipilih Nya untuk menampung Air. Tanpa figur itu, Ia tidak akan menurunkan Air. Karena hanya figur itulah yang dapat mencapai frekwensi Nya. Mereka yang ada di jalan kebenaran akan menjadi sebuah komunitas yang solid, tidak terpecah menjadi golongan-golongan. Merekalah yang diutus pada zamannya sebagai founding father yang muncul disetiap kebangkitan peradaban.

Di dalam jalan kebenaran, mereka hanya menjadikan Tuhan sebagai pemimpin hidupnya. Pengabdiannya hanya ditujukan kepada Nya. Kerjanya, tidurnya, makannya, nafasnya, tidak lain untu terus menyamakan visi dan misi menjadi orang-orang yang akan menyambut datang Nya Tuhan di muka bumi. Mereka tidak mencuri, tidak berzinah, tidak membunuh anak-anak, tidak berdusta, tidak mengambil tuan-tuan lain selain Tuhan. Mereka sangat taat kepada perintah dan menjauhi larangan Nya. Mereka itulah yang menempuh jalan yang lurus; jalan yang diberi nikmat ke atasnya. Sebuah jalan yang dicari oleh setiap manusia.


Sedangkan pada jalan yang dimurkai Nya, makanan yang dikonsumsi berasal dari Iblis yang tadi telah menaruh dendam untuk menyesatkan manusia dengan membuat orang yang mengikutinya menjadi memandang benar apa yang dikerjakannya, padahal ujung dari perbuatannya tidak lain sebuah siksaan yang menistakan.

Perbuatan-perbuatan yang dianggap benar oleh mereka sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam jalan kebenaran. Mereka melakukan ritual juga, berbuat baik juga, menderma pada orang miskin juga, berjuang juga. Tetapi karena yang membina mereka adalah ajaran Iblis menyesatkan, maka orientasi tujuan hidupnya menjadi kacau. Sekali menjadikan Tuhan sebagai tuan, tetapi dilain kesempatan menjadikan yang lainnya sebagai tuan. Di satu sisi menjadikan Tuhan sebagai pengabdian, tetapi dibelahan lain mengabdi kepada perutnya.

Ketika manusia menjadikan tuan-tuan lain disamping Tuhan, itulah makna dari perzinahan besar. Tuhan tidak mau jika disaingi dengan tuan-tuan yang lain, Tuhan sangat pencemburu. Akibat dari penyesatan iblis, mereka tidak mengetahui untuk apa mereka hidup, tugas apa yang sesungguhnya Tuhan embankan kepada manusia. Mereka tidak mengenal Tuhannya. Petunjuk-petunjuk hidup yang diturunkan Nya dijual dengan harga yang murah. Murah karena apa yang ditujunya tidak sebanding dengan peruntukan dalam manual book Nya.

Apa indikator untuk mengenal kedua jalan ini? Mereka yang berada di jalan lurus-benar akan melakoni skenario orang-orang taat yang dikisahkan dalam kitab suci secara struktural, tanpa terkecuali. Sedang mereka yang berada pada jalan yang dimurkai Nya melakoni peran orang-orang durhaka yang juga diceritakan dalam kitab suci.

Jalan kebenaran dipimpin oleh Tuhan dengan mengutus para Nabi dan Rasul, sedangkan jalan yang dimurkai Nya dipimpin oleh iblis. Maka para Nabi dan Rasul adalah figur yang Tuhan utus untuk memimpin orang-orang yang taat kepada Nya, sedang iblis menjadi figur yang Tuhan utus untuk memimpin orang-orang dalam jalan yang dimurkai Nya.

Kedua jalan ini saling silih berganti menjadi penguasa di muka bumi karena itu merupakan tradisi Nya. Sebuah kebiasaan yang terpelihara dan akan terus berulang pada setiap zaman. Ada terang, ada gelap. Ada kekuatan kebenaran, ada kekuatan Iblis, Semua ada saatnya, ada batas waktunya. Tinggal kita harus dapat mencerdasi, apakah saat ini jalan kebenaran yang menguasai bumi, atau jalan yang dimurkai Nya yang berkuasa.

Kedua jalan ini terbuka lebar di depan mata untuk ditempuh; Apakah memilih jalan kebenaran dengan melakoni kisah orang-orang taat dalam kitab suci, atau nyaman dalam jalan yang dimurkai Nya dengan menjadikan materialistik sebagai tuan disamping Tuhan. Tetapi Tuhan telah berpesan, bahwa disaat jalan kebenaran muncul, maka jalan-jalan lain yang dipimpin iblis itu akan tunduk kepadanya. Iblis adalah utusan Tuhan juga, ia bisa menyamar untuk mengelabui manusia dari jalan kebenaran kepada jalan kesesatan

MANUSIA SEMPURNA

Dalam perjalanan kepribadian manusia, dia mengalami tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda dari sifat atau karakter, perkataan, serta perbuatannya. Keberadaan manusia di bumi tidak diciptakan begitu saja oleh Sang Pencipta, Dia menciptakan manusia dengan satu tujuan tertentu, tanpa diberi tahu kemana arah dan tujuan hidup ini manusia akan binasa. Dia menunjukan kepada manusia jalan hidup yang harus dilaluinya. ia (manusia) bebas memilihnya, apa akan mensyukuri atau mengingkari. Tidak ada paksaan di dalam memilih jalan hidup itu, yang berarti Sang Pencipta -netral-.

Tujuan dari petunjuk itu adalah demi kepentingan dirinya sendiri dalam mencapai tujuan akhir periode penciptaan alam dunia, yaitu alam akhirat. Bagi yang memfungsikan petunjuk itu sebagai Nur atau Ilmu, manusia akan dapat melihat jalan keselamatan, dan bagi yang menyia-yiakan dia akan tersesat ke arah kebinasaan. Bila manusia menyia-yiakan petunjuk Sang Pencipta yang berfungsi menuntun perkembangan mental spiritualnya ke arah kesempurnaan, arah perkembangan itu akan membelok ke arah negative, menjadi makhluk perusak.

Kesempurnaan manusia bukan berada pada kemampuannya berfikir sebagaimana yang didefinisikan oleh orang-orang Jahiliyah (kaum materialis), yang menganggap kesempurnaan manusia karena dia mempunyai akal fikiran. Menurut Sang Pencipta kesempurnaan manusia sebagai ciptaan-Nya, tatkala manusia itu memahami dan meyakini kebenaran firman-firman-Nya, kemudian firman Tuhan itu menjadi tenaga penggerak bagi fikiran, perkataan, dan perbuatan.

Dengan demikian mengertilah kita bahwa manusia yang sempurna adalah manusia yang telah menjadikan firman Tuhan sebagai Ruh dalam dirinya. Sebaliknya manusia yang tidak faham dan tidak meyakini firman Tuhan, dia bukanlah manusia sempurna bahkan di mata Tuhan dipandang sebagai -manusia yang berada didunia orang mati-. Walaupun pada dasarnya tubuh manusia secara fisik atau biologis dirancang dengan sangat sempurna oleh Tuhan, sesuai dengan fitrahnya. Bahkan organ-organ tubuh itu sangat istimewa dan sangat rumit hingga mengungguli peralatan tercanggih di dunia ini.

Ada tertulis didalam kitab Tuhan : “ Maka tatkala Aku akan menyempurnakan ciptaan-Ku, yaitu manusia. Aku tiupkan kedalam dirinya Ruh-Ku”. Kata ditiupkan adalah istilah wahyu, karena ruh adalah firman Tuhan maka ditiupkan ruh artinya diajarkan firman Tuhan atau ilmu Tuhan yang akan menghidupkan umat manusia.

Apabila manusia menolak firman Tuhan dalam dirinya, maka dia berada di dalam dunia orang mati. Dia akan binasa dan tidak akan mencapai kehidupan yang kekal, karena dirinya hanya terdiri dari darah dan daging. Didalam kitab suci dikatakan : “tidaklah sama orang yang hidup dengan orang yang mati”, tentu saja yang dimaksud adalah bukan persamaan antara mayat dengan orang yang hidup, tetapi antara orang yang meyakini firman Tuhan dan orang yang menolak firman Tuhan didalam dirinya.

Di dalam Kitab suci juga di katakan “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan (Mat 4:4). “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya”. (Yak 1:22-26)

Apabila manusia hidup tanpa Firman Tuhan maka dia akan cenderung kepada tarikan kebinatangannya, bahkan lebih buruk dari binatang. Karena dirinya, otaknya, keinginan-keinginanya telah dikuasai oleh nafs nya (nafsu keduniaan, nafsu material), sedangkan nafs itu selalu cenderung kepada keburukan. Karena nafs itu berkuasa bagai raja didalam dirinya dan raja itu selalu memerintahkan fikiran manusia ke jalan yang buruk.”Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang”. (Yusuf : 53)

Ada tertulis didalam Kitab suci : “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al Jatsiyah : 23).
“Tahukah kamu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,
Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (Al Furqaan : 43-44)

Karena dirinya telah berilah kepada hawa nafs -aku- menjadi ukuran kebenaran, sehingga tindakan-tindakan apapun yang memuaskan -aku- adalah kebenaran. Maka ukuran kebenaran adalah pragmatis, apa yang menurut dan menguntungkan -aku- itu adalah kebenaran. walaupun itu perbuatan jahat, tetapi tatkala memuaskan hawa nafsunya, maka hal itu dilihatnya sebagai perbuatan yang baik. Nafs atau -daya sadar diri- yang ada di dalam qolbu itu sifatnya sangat tergantung pada syahwat, yaitu kecenderungan pada daya hidup biologis yang bekerja dalam jasad manusia. Sehingga menjadi MANUSIA ROBOT yang tidak memiliki rasa (Emotional Quotient), manusia robot yang hanya melihat sesuatu berdasarkan angka-angka keuntungan materi.

Tercabutnya daya qolbu atau kemampuan qolbu untuk memahami kebenaran firman Tuhan (Spiritual Quotient) menyebabkan orang menjadi materialistic dan tamak akan harta. Dengan demikian eksistensinya sangat ditentukan oleh kepuasan syahwat. Jika seseorang memiliki sarana syahwat yang cukup dia akan mempertahankannya untuk jangka panjang ke depan, sehingga langkah penghematan dan deposito akan dia lakukan. Tetapi jika sarana syahwat tidak terpenuhi yang terjadi adalah kesusahan dan kegelisahan yang membuat hidupnya sangat menderita, oleh sebab itu manusia yang paling menderita adalah manusia materialis. Apabila dirinya kaya, dia akan menjadi kikir walaupun kepada dirinya sendiri (efficiency), dan jika terjadi resesi, dunia seperti akan kiamat.

Anggapan orang-orang atau kaum materialis yang beranggapan, tidak ada manusia yang sempurna didunia ini adalah SALAH!!. Kesempurnaan manusia bukan karena tubuhnya yang indah, bersih, seksi, atau menarik lawan jenisnya. Bukan juga karena memiliki harta yang melimpah, status social,jabatan yang tinggi, serta memiliki segalanya. Menurut Tuhan MANUSIA SEMPURNA adalah manusia yang terbebas dari jajahan hawa nafsunya dan mampu mendayagunakan ketiga sarana yang Tuhan berikan kepadanya, yaitu pendengaran, pengelihatan, dan akal fikiran untuk mempelajari firman-firman Tuhan. Memahami dan meyakini agar dia memiliki Ruh Sang Pencipta, Pengatur Semesta Alam

BANGSA JAHILIYAH

Sifat daripada kebudayaan adalah sesuatu yang berkembang dari waktu ke waktu. Apa yang dulu dianggap baik, belum tentu cocok untuk kehidupan 14 abad silam, tetapi untuk kehidupan masa kini, dimana hubungan antar bangsa sudah begitu rapat, system komunikasi yang begitu cepat, serta perkembangan teknologi dan science yang begitu maju, maka ide untuk kembali menempatkan ajaran Tuhan sebagai pedoman tata kehidupan umat manusia, menjadikan hukum-hukum Tuhan sebagai dasar hukum, menjadi ide yang tidak popular lagi. Satu-satunya langkah yang mungkin dapat dilakukan untuk menyelamatkan ajaran tersebut adalah dengan jalan menempatkan pesan-pesan moralnya untuk dijadikan pelajaran budi pekerti, disamping hal-hal yang berhubungan dengan ritual sebagai aktivitas rohani, bagi kehidupan akhirat nanti. Demikian jalan pikiran jahiliyah modern dewasa ini.

Sepintas apabila orang mendengar kata jahiliyah, maka yang ada di benaknya langsung tertuju kepada -masyarakat- bangsa Arab kuno. Karena mereka hidup ditengah belantara padang pasir yang panas, gunung-gunung batu yang tandus serta sifat masyarakatnya yang nomaden. Mereka dinamakan masyarakat jahiliyah karena sifatnya yang kejam, bodoh, barbar dan mereka hidup dalam kabilah-kabilah eksklusif. Jika satu kabilah bertemu dengan kabilah lainnya di padang pasir, satu sama lain saling baku hantam. Mereka hidup dari berniaga, dari satu dusun ke dusun lainya. Dan ditengah jalan sering kali mereka dicegat penyamun yang merampok barang-barang dagangan mereka. Itulah jawaban di masyarakat umum tentang jahiliyah.

Mereka juga masyarakat yang tidak mengenal Tuhan Allah, yang mereka sembah adalah batu, arwah dan berhala-berhala yang ditempatkan disekitar rumah tua. Disekitar rumah tua itu terdapat lebih dari 300 macam patung yang disembah oleh tiap-tiap kabilah yang datang kerumah itu. Judi, miras, prostitusi, perampokan, tidak tahu tatakrama, sopan santun, penuh dengan perdukunan, dan pembunuhan adalah masalah-masalah biasa dan sudah menjadi kebudayaan mereka. Bahkan digambarkan karena sangat jahiliyahnya, ibadah haji dilakukan dengan telanjang, sholat dilakukan sambil bersiul dan bertepuk tangan. Demikian pendapat menurut definisi para sejarawan dan para ulama Ahlul Kitab Taurot, Injil, maupun Al Qur’an.

Itulah gambaran masal manusia tentang jahiliyah dan itu pula jawaban, mengapa agama Islam atau Nabi Muhammad diutus di Arab, dan bukan di Eropa, Cina atau di Indonesia. Dari pemahaman yang seperti ini, berkembang logic bahwa Nabi Muhammad diutus kepada bangsa Arab saat itu, untuk memperbaiki akhlak masyarakat bangsa Arab yang jahiliyah. Sedangkan bangsa-bangsa lain di Eropa, Asia Timur seperti Cina, Jepang, dan Indonesia tidak ada masalah, karena mereka adalah bangsa yang sudah maju dan memiliki peradaban yang luhur. Pengertian jahiliyah yang seperti ini sudah berkarat pada otak manusia pada umumnya, bahkan sudah mengakidah di hati umat yang katanya mengaku dirinya muslim. Bahkan sudah menjadi penyakit yang paling parah untuk bisa mengerti apa itu Islam secara proporsional.

Kalau makna jahiliyah diartikan seperti itu, maka alangkah rendahnya kitab-kitab Allah, Kitab Allah digambarkan sebagai konsumsi bagi orang-orang bodoh dan orang-orang yang tidak beragama. Taurot untuk bangsa-bangsa primitif dimana manusia belum sempurna akal fikirannya, Injil untuk bangsa-bangsa kuno dahulu kala, demikian juga Al Qur’an untuk bangsa padang pasir yang tidak berbudaya dan beradab. Itulah pengertian orang-orang jahiliyah tentang jahiliyah.

Secara etimologi, kata jahiliyah dari kata -jahal, jahil, jahala- yang berarti bodoh, sebagai lawan dari kata pandai. Dalam hubungan digunakannya kata ini di dalam Al Qur’an, maka pengertiannya menjadi khusus. Perhatikan ayat dibawah ini :

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (Al Maaidah : 50).

Disini kata jahiliyah dihubungkan dengan masalah pilihan hukum. Allah sebagai Al Hakim yang maha bijaksana mempunyai hukum, hukum yang diciptakan Allah untuk manusia mempunyai tujuan mulia, yaitu membebaskan seseorang dari dosa atau kesalahan, agar orang tersebut kembali suci dan tidak keluar dari garis fitrahnya.

Allah sebagai Al kholik menciptakan semesta alam secara adil dan itu dapat disaksikan dalam kehidupan -mizan- pada benda-benda langit, dan merupakan implementasi dari hukum Allah, semuanya bebas dari campur tangan manusia. Secara nature atau fitrah, manusia dilahirkan bukan untuk mengatur, yang hak untuk mengatur makhluk adalah Sang Khalik. Makhluk tidak berwenang mengatur makhluk lainnya. Jika Rosul menghukum seseorang, itu dilakukan dalam kedudukannya selaku -mandataris- atas izin Allah bukan atas kemauannya sendiri. Inilah landasan Allah membuat hukum yang kemudian diperintahkan kepada Rosul dan Ulil Amri Mu’min untuk ditegakkan. Seorang Hakim dalam negeri harus tunduk kepada prinsip-prinsip keadilan, dia bukanlah hakim agung; diatasnya ada hakim yang lebih tinggi, yaitu Allah.

Sebenarnya didalam kitab-kitab Allah yang dimaksud dengan jahiliyah adalah tatkala manusia mengatur hidupnya bukan dengan hukum keadilan Allah. Tatkala bangsa-bangsa membuat hukum berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa, yang kemudian dijunjung tinggi oleh bangsa itu, itulah yang disebut dengan jahiliyah. Kalau jahiliyah diartikan dengan bodoh, itu memang ada benarnya. Tetapi bukan bodoh dalam arti tidak berbudaya, tidak bisa baca tulis atau tidak beragama. Dikatakan bodoh karena ada hukum Allah Yang Maha Adil, ada hukum Allah yang menciptakan alam semesta berdasarkan keadilan, ada hukum Allah yang merupakan fitrahnya manusia, hukum yang diciptakan oleh Allah untuk keadilan dan kesejahteraan manusia, untuk melindungi hak-hak azasi manusia dari kezoliman manusia lainnya, tetapi umat manusia mengkafirinya, kemudian membuat hukum sendiri berdasarkan konsensus bangsa.

Istilah -Jahiliyah- juga digunakan pada zaman Nabi Musa AS, yaitu kurang lebih 1500 tahun sebelum Nabi Muhammad. Kasusnya tetap sama yaitu keengganan umatnya ber-illah (berhukum) kepada Allah, perhatikanlah surat berikut :

“Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap mengabdi kepada -Asnaam-, mereka berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa -illah-". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu Ini adalah kaum yang Jahil" (Al A’raaf : 183).

Umat nabi Musa yang mengusulkan dibuatnya -illah illah- lain sebagai pengganti Allah, disebut jahil bukan karena mereka bodoh dalam arti lawan dari pandai; mereka disebut jahiliyah karena tidak mau ber-illah kepada Allah. Mereka lebih menyukai menggunakan hukum bikinan hawa nafsu manusia, bikinan penguasa-penguasa manusia, bikinan raja-raja manusia yang selalu menindas rakyat kecil. Tatkala orang-orang menolak hukum Allah dan mengambil hukum bikinan manusia, maka bangsa itu disebut jahiliyah. Kapan saja, dimana saja, siapa saja, sampai millennium kinipun apabila suatu bangsa membuat hukum sendiri, membuat kerajaan sendiri untuk mentegakkan hukum yang dibuatnya, dengan membuang hukum Allah, maka bangsa itu disebut bangsa jahiliyah. Sampai kapanpun bila manusia membuat hukum sendiri dan menolak hukum Allah, maka umat itu disebut umat jahiliyah. Terlepas dari apakah bangsa itu bangsa modern dari segi science dan teknologi, tetap saja bangsa itu disebut bangsa yang bodoh (Jahiliyah).

Lantas bagaimana masyarakat bangsa-bangsa di dunia hari ini, khususnya bangsa kita tercinta ini??
Salam…

ISLAM DAN BUDAYA TASAUF

Kebudayaan umumnya dikatakan sebagai proses atau hasil krida, cipta, rasa, dan karsa manusia dalam upaya menjawab tantangan kehidupan yang berasal dari alam sekelilingnya. Alam ini, di samping memberikan fasilitas yang indah, juga menghadirkan tantangan yang harus diatasi. Manusia tidak puas dengan hanya apa yang terdapat pada alam kebendaan. Manusia memiliki wawasan dan tujuan hidup tertentu sesuai dengan kesadaran dan cita-citanya.

Budaya Islam yang disebarkan oleh para Nabi dan Rosul adalah Islam yang sejati, Islam yang original yang memancarkan budaya Islam Syar’i. yakni bentuk pemahaman dan pengamalan Nabi atas ajaran yang belum dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya lokal; akan tetapi justru mengubah budaya lokal yang pluralistik menjadi tauhid, yang hanya mencintai Allah saja. Sepanjang perjalanannya, penyebaran Islam selalu terbentur dengan budaya-budaya masyarakat lokal. Dalam interaksi Islam dan berbagai budaya lokal tentu terdapat kemungkinan Islam mewarnai, mengubah, mengolah, dan memperbaharui budaya lokal, tetapi mungkin pula Islam yang justru diwarnai oleh berbagai budaya lokal. Masalahnya disini, apakah para pendukung Islam yang aktif, atau malah sebaliknya para pendukung budaya lokal yang telah memahami ajaran Islam menurut kacamata warisan budaya lokal mereka. Melalui hal ini timbul proses lokalisasi unsur-unsur Islam yang kelak dalam sastra budaya melahirkan Islam Konservatif (tradisional). Begitu juga jika para ulama pendukung Islam yang aktif mengislamkan masyarakat, tentu yang muncul adalah budaya Islam Pesantren.

Di samping itu budaya umat manusia juga selalu berkembang dan dinamis. Karena itu, dalam interaksi budaya lokal dan budaya Islam tentu muncul dua budaya yang berbeda; budaya Islam yang original (progresif) dan budaya Islam yang tradisional (ekspresif-konservatif). Budaya Islam yang progresif adalah pengembangan cara berfikir ilmiah yang menghasilkan berbagai disiplin ilmu. Para pendukung kebudayaan progresif umumnya adalah pecinta ilmu pengetahuan, dan selalu tanggap terhadap unsur-unsur positif baik dalam budaya asing, untuk mendukung pengembangan, progresifitas, dan dinamika budaya Islam. karena mereka memandang kebudayaan sebagai proses yang selalu berkembang, sehingga wawasan merekapun dinamis. mereka memandang hasil budaya pada suatu zaman adalah bernilai untuk sementara waktu, dan pasti akan diganti oleh hasil budaya yang lebih unggul nilainya. Sedangkan puncak kebudayaan ekspresif bermuara pada kepercayaan mitologis dan mistik.

Para pendukung Islam ekspresif-konservatif umumnya bersikap statis dan tradisional, mereka menilai hasil kebudayaan sebagai sesuatu yang final. Mereka yang berwawasan tradisional kurang tanggap terhadap perlunya perubahan maupun penyesuaian budaya Islam terhadap kemajuan zaman. Misalnya, mereka menyayangkan ditinggalkannya budaya ruwatan, tayuban, tahlil, ziarah, wayangan dan sebagainya. Mereka khawatir anak-anak kini tidak bisa lagi menjalankan tradisi itu.

Ajaran Islam yang asli adalah bersumber pada Al Qur’an dan Sunnah atau pengamalan yang dicontohkan oleh Rasulullah dari awal menerima wahyu sampai Dien Islam tegak. Pemahaman Islam yang utuh meliputi tiga aspek : Iman, Hijrah, Jihad. Inti sari Iman menurut perspektif Al Qur’an adalah pengesahan Allah; yang jernih, dan murni, serta tidak mengenal kompromi terhadap mitologi dan kemusyrikan. Islam menganut paham yang rasional dan jernih, yang menolak setiap bentuk kuasa rohani selain Allah. Islam sebagai ajaran dari Tuhan sangat menghargai logika penalaran; konsep ijtihad sebagai sumber dinamik sebagai pengembangan ajaran. Pendekatan ilmiah untuk mendinamisasi pengembangan ajaran adalah mutlak, tanpa hal ini ijtihad akan lumpuh, demikian pula tanpa pendekatan ilmiah, pemahaman terhadap konsep tauhid tidak akan jernih.

Sedangkan budaya islam konservatif atau tradisional berpangkal pada ajaran tasawuf atau sufisme yang berorientasi pada paham mistik. Mistisisme dalam islam dikenal dengan nama tasawuf dan oleh kaum orientalis barat disebut sufisme. Ajaran tasawuf ini tidak bisa menjadi dasar modal bagi kehidupan modern, apalagi di jadikan dasar untuk mengembangkan ajaran Islam yang murni berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Ajaran Islam yang original sangat menekankan nilai moral idealis yang tinggi, bukan moral spiritual yang mistik. Tergusurnya moral spiritual yang idealis berarti tergusurnya jiwa keislaman, meskipun masih melaksanakan shalat lima waktu, zakah, puasa, haji. Dia punya islam, tetapi tidak menghayati Ruh keislamannya.

Ajaran tasawuf ini telah menjadi inti dari ajaran mistik yang berkembang selama berabad-abad bahkan sebelum diutusnya Nabi Muhammad. Ajaran mistik ini telah lama berkembang dalam agama Hindu, Budha, Kristen, bahkan dalam filsafat Yunani kuno yang dikembangkan oleh NeoPlatonisme (427-347 SM). Ia juga telah menyebar di Timur Tengah, seperti Mesir, Syiria, Persia, Basrah, sampai mencakup daratan Eropa, Asia dan Afrika. Bahkan sampai hari ini ajaran tersebut masih mendominasi ajaran Islam yang murni, puncaknya pada abad ke-12 M, ia dikenal dalam islam sebagai ajaran tasawuf, dan para pengikutnya disebut sufi. Ajaran ini awal pertumbuhannya dikembangkan oleh para elite kerohanian, kemudian pada abad ke-13 M terjadi kemunduran pemikiran Ijtihad dalam Islam. Sebagai gantinya, ajaran tasawuf dengan berbagai tarekatnya menguasai pemikiran Islam. Kemunduran umat Islam ini disimbolkan oleh runtuhnya Kebudayaan intelektual Baghdad dan Cordoba, sehingga sejak abad 13 sampai abad ke-20 M, hingga hari ini pemikiran islam didominasi oleh ajaran sufisme dengan berbagai tarekat, khurafat, dan takhayul.

fakta historis juga mencatat bahwa ajaran -tasawuf, sufisme, mistis- adalah warisan agama Parsi kuno yang menyembah dewa-dewa (panganisme). Bahkan dipercaya, empat mazhab besar seperti Hanafiah, Malikiah, Syafi’iah, dan Hambaliah menganut paham tasawuf. Mereka bukanlah orang yang hidup pada zaman nabi Muhammad, bahkan tidak pernah merasakan keras dan pahitnya perjuangan nabi. Mereka hidup sekitar 230 tahun atau 270 tahun setelah nabi yang agung wafat. Imam Muhammad Ismail Bukhari (846 M), imam Muslim Bin Hajjaj Al Qasheeri, Abu Abdullah Ibn Yazeed Ibn Majah, Sulaeman Abu Dawood, Imam Abu Musa Tirmizi, dan Abu Rahman Nisai, mereka datang dari kerajaan Persia yang dikalahkan oleh pasukan Islam. Serta Syaikh Muhammad Bin Yaqoob Bin Ishaq Al-Kulaini, Syaikh Abu Ja’far Ibn Ali Ibn Babwayhi Al-Qummi serta Syaikh Ibn Hassan Al-Toosi berasal dari Persia, tak satupun dari orang-orang ini yang orang Arab. Mereka semua orang majusi dari kerajaan Persia Sassanid yang sakit hati terhadap umat Islam akibat kekalahan mereka oleh pasukan Islam.

Para pengikut Majusi-Zoroastrian ini banyak diantara mereka memakai nama dan kedok muslim. motiv utama yaitu memecah belah umat muslim menjadi beberapa sekte, sehingga mendorong mereka untuk berselisih satu sama lainnya dan menjadikannya meninggalkan Al Qur’an. Mereka selalu sibuk mengeluarkan bid’ah-bid’ah pribadi dari teks-teks kitab suci, melegitimasinya dengan kedaulatan Tuhan, menafsirkan kitab suci menurut hawa nafsu, memonopoli penafsiran kitab suci, memaksa orang lain untuk menerima pendapat pribadi mereka dan bergelimang dalam khurafat dan takhayul. Mereka adalah orang-orang yang Dimana kemunculannya seiring dengan mulai runtuhnya kebudayaan intelektual islam, dan budaya tasawuf mulai mendomionasi ajaran islam murni. Begitu juga dengan ulama-ulama atau imam-imam yang muncul pada masa kehancuran kekuasaan Islam yang berkedok sebagai domba, padahal mereka adalah serigala yang amat buas.

Akibat runtuhnya kebudayaan Islam serta para intelektualnya di Baghdad, Cordoba dan daerah-daerah Islam lainnya, maka kevakuman ini kemudian diisi oleh ajaran tasawuf; tetapi sayangnya, ajaran tasawuf adalah memistikkan ajaran Islam murni (Al Qur’an dan Sunnah). Sehingga mengubah citra islam menjadi ajaran yang mengembangkan budaya ultra ekspresif (budaya mistis-tasawuf). Ini berlawanan dengan ajaran islam Murni yang mengedepankan budaya yang progresif yakni penalaran logika-ilmiah yang merupakan ijtihad murni berdasarkan Kitab suci. Cara berfikir Sufisme lebih menomorsatukan paham animisme, ilmu gaib, dan tahayul. Ciri khas ajaran tasawuf-sufisme adalah menganut kepercayaan roh dan daya gaib yang bersifat aktif warisan nenek moyang yang tidak berlandaskan kepada Al Quran dan Sunnah. Prinsip roh aktif menurut mereka adalah bahwa roh orang mati tetap hidup dan bahkan menjadi sakti seperti dewa, bisa mencelakakan atau mensejahterakan masyarakat manusia. Dan roh gaib itu juga di yakini dapat membantu atau mengganggu kehidupan manusia, artinya dapat di manfaatkan.

Tentu hal ini menumbuhkan kelompok-kelompok pawang kebatinan, dukun, pendeta atau paranormal yang berfungsi sebagai perantara untuk bisa berhubungan langsung dengan roh dan kekuatan gaib tersebut. Jadi pola berfikir sufistik jelas menyimpang dari ajaran Islam, karena tidak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah serta pengalaman yang dicontohkan para Rasulullah. Ajaran tasawuf ini juga telah berkembang di nusantara; khususnya tanah jawa, jauh sebelum Islam masuk ke bumi nusantara. Dimana kerajaan Hindu dan Budha yang menganut paham mistisme sudah mengakar di masyarakatnya. Sudah menjadi hal yang lazim, setiap penguasa pasti mencoba menanamkan pahamnya kepada masyarakatnya. Sehingga ajaran Islam murnipun telah bercampur dengan ajaran tasawuf di tanah jawa. Bahkan para wali yang menyebarkan islam di tanah jawa pun dipercaya telah terkontaminasi oleh budaya lokal. Sehingga perlu diadakan evaluasi religi tasawuf-sufisme-mistis yang telah mengakar kuat semenjak zaman pra-sejarah di Indonesia, khususnya di Jawa.

Ajaran tasawuf memuncak pada masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa melalui pengembangan ilmu pedukunan, ilmu klenik dengan rumusan lafal berbahasa Arab yang dipercayai berdaya magis. Demikian pula ilmu santet, ilmu tenung, adat istiadat kesukuan, upacara religi atau ritual-ritual, mantra-manta atau kidung-kidung untuk memohon bantuan roh nenek moyang dan menolak segala penyakit, merupakan warisan ilmu hitam nenek-moyang yang berkaitan dengan kepercayaan animisme, bukan warisan ajaran Islam yang yang di bawa oleh Rasulullah. Ajaran ini jelas-jelas menyimpang dari syariat Islam. Anehnya dalam masa transisi menuju modern ini, ilmu perdukunan dan jampi-jampi justru kian marak, dan bahkan sering dikaitkan dengan ilmu pijat urut dan sebagainya. Padahal bagi umat Islam, kepercayaan akan adanya roh dan daya gaib ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Pada intinya kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa ajaran tasawuf-sufisme-mistis bukan warisan ajaran Islam murni, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah serta tidak berlandaskan Al Quran dan Sunnah dan sesat menyesatkan.

Tuanku Allah Berbicara Bagikan

From Bible Yehezkiel,

Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: "Engkau, anak manusia, katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tanah Negeri: Berakhir! Berakhirlah keempat penjuru tanah itu. Kini kesudahanmu tiba dan Aku akan mencurahkan murka-Ku atasmu dan Aku akan menghakimi engkau selaras dengan tingkah lakumu dan Aku akan membalaskan kepadamu segala perbuatanmu yang keji. Aku tidak akan merasa sayang kepadamu dan tidak akan kenal belas kasihan, tetapi Aku akan membalaskan kepadamu selaras dengan tingkah lakumu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji akan tertimpa atasmu. Maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.

Beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, bencana demi bencana akan datang! Kesudahan datang, kesudahanmu tiba, seakan-akan ia terbangun melawan engkau, lihat datangnya! Malapetaka datang atasmu, hai penduduk negeri! Waktunya datang, saatnya tiba! Hari huru-hara, bukan tempik sorak di atas gunung-gunung. Sekarang dengan segera Aku akan mencurahkan amarah-Ku atasmu dan melampiaskan murka-Ku kepadamu, Aku akan menghakimi engkau selaras dengan tingkah lakumu dan membalaskan kepadamu segala perbuatan-perbuatanmu yang keji.

Aku tidak akan merasa sayang dan tidak akan kenal belas kasihan; selaras dengan tingkah lakumu akan Kubalaskan kepadamu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji akan tertimpa atasmu. Maka kamu akan mengetahui, bahwa Aku, TUHANlah, yang memusnahkan. Lihat, harinya sungguh datang: malapetaka akan menimpa, kelaliman bertunas, keangkuhan bertaruk. Kekerasan bersimaharajalela, yang menjadi penopang segala kejahatan. Tidak ada dari mereka yang tertinggal, baik dari kelimpahan mereka maupun dari kemewahannya; kemolekannya pun akan terhapus.

Waktunya datang, harinya mendekat! Biarlah si pembeli jangan bergembira dan biarlah si penjual jangan berdukacita, karena kehangatan murka tertimpa atas segala kegemparan mereka. Sebab si penjual tidak akan kembali kepada jualannya, kalaupun mereka masih di tengah-tengah orang hidup, karena kehangatan murka tertimpa atas segala kegemparan mereka dan tidak dapat ditahan lagi, dan seorang pun tidak dapat mempertahankan hidupnya oleh karena kesalahannya.

TUHAN telah menjalankan yang dirancangkan-Nya, Ia melaksanakan yang difirmankan-Nya, yang diperintahkan-Nya dahulu kala; Ia merusak tanpa belas kasihan, Ia menjadikan si seteru senang atas kamu, Ia meninggikan tanduk lawan-lawanmu. Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya. Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya. Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan. Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan. Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.

Segala Puji Bagi Allah, Tuan Semesta Alam.

Allah Milik Siapa?

Ada tiga agama besar yang bertahan dan sampai hari ini menguat yang lahir di Timur Tengah : Secara kronologis, Yahudi, Kristen, dan Islam. Masing-masing mengaku punya punya jalur komunikasi unik dan istimewa dengan Sang Khalik. Masing-masing punya sapaan akrab sendiri-sendiri pula terhadap yang Ilahi. Di Indonesia ada orang mengangap Allah milik Islam, adapun Kristen dan Yahudi punya Yehovah. Kalau orang Kristen bilang Allah, itu saru, kata mereka.

Kata Allah memang berasal dari bahasa Arab, tapi itu tidak berarti hanya Islam yang mengenal istilah itu. Sudah sejak zaman prasejarah bangsa-bangsa dalam rumpun Semit, yang di dalamnya termasuk Arab dan Israel, mengenal kata itu dalam berbagai varian. Ada Allah, Ilah, El, Eloh, Elohim, Il , dst.

Bangsa Akad (peradaban tertua nomor dua, abad ke-24 sampai ke-22 SM, sesudah Sumeria, yang lahir di Mesopotamia atau Irak sekarang) mengenal Ilu, yang mungkin berarti ‘Yang Mahakuasa’ dan berkaitan dengan makna Terang. Kata ini sejak zaman kuno tersebar luas sehingga juga dikenal dalam bahasa-bahasa barat. Dari bahasa Inggris dan Latin, misalnya, kita ambil kata Iluminasi . Peradaban kuno Timur Tengah itu menganggap kekuasaan atas alam dan hidup manusia berasal dari atau berada dilangit dan bagi mereka, tidak ada benda langit yang tak bercahaya. Kepercayaan ini juga yang melahirkan astrologi, yang masih berlaku keras sampai sekarang.

Oleh bangsa-bangsa politeistik pada zaman sebelum Musa, El atau variannya disembah sebagai yang tertinggi, kepala atau bapa dari semua ilahi. Kata ini juga banyak dipakai sebagai bagian dari nama diri, misalnya Ismael (yang berarti: ‘El mendengarkan’) dan Israel (‘El berhasil’). Namun pada umumnya kata itu lebih dipakai sebagai nama generik, seperti cara kita sekarang pada umumnya memakai kata tuhan, ilah, atau dewa.

El juga dipakai dalam bentuk gabungan, misalnya, El Shadai (Allah Mahakuasa), El Elyon (Allah Maha tinggi), atau El Olam (Allah Mahakekal). Oleh penerjemah-penerjemah Alkitab Kristen Indonesia, kata Allah dipakai untuk menerjemahkan El, Eloh, atau Elohim (bahasa Ibrani) dan Theos, padanan bahasa Yunaninya. Umumnya orang Indonesia kenal kata theos sebagai bagian dari ateis. Theos sendiri masih berkaitan dengan kata dues dan Zeus (Latin) serta deva atau dewa (Sansekerta). Dalam bahasa Inggris kata God yang dipakai.

Dalam Alkitab Kristen bahasa Arab, yang dipakai orang-orang Arab Kristen, kata Allah juga dipakai. Dalam hal ini, kata itu tidak bisa dianggap terjemahan karena justru itulah aslinya, akarnya sama, hanya beda cara pengucapan atau pengembangannya dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab

Nama pribadi Sembahan orang Ibrani, dan kemudian orang Kristen, adalah Yahweh atau Yehovah. Kadang-kadang ditransliterasi sebagai YHWH karena, seperti bahasa-bahasa Semit lain, bahasa Ibrani sebetulnya tidak mengenal huruf hidup. Dalam bentuk pendek atau gabungan kata itu menjadi Yah atau Yahu atau Yo, seperti dalam Haleluya(h), yang berarti ‘mari puji Yah’, atau nama diri Yosua atau Yusak.

Arti Yahweh sendiri mungkin merupakan cerminan dari keunikan Allah sebagai satu-satunya yang patut disembah. Menurut Alkitab Ibrani, ketika Musa disuruh oleh “Allah nenek-moyangnya” membawa bangsanya keluar dari perbudakan di Mesir, dia memberanikan diri menanyakan nama-Nya. Jawabnya,“Aku adalah Aku”.

Menariknya, orang Israel tidak pernah menyuarakan nama pribadi Yahweh. Kalau bertemu tulisan itu , mereka membaca Adonai, yang barangkali bisa kita katakan adalah nama kehormatan, bermakna Tuan atau Tuhan.

Oleh Lembaga Alkitab Indonesia, nama Yahweh ini diterjemahkan TUHAN (semua huruf besar). Adapun kata Tuhan (hanya huruf pertama yang besar) dipakai untuk menerjemahkan Adonai (Ibrani) dan Kyrios (Yunani). Dalam bahasa Inggris padanannya ialah LORD atau Lord.

Dalam perkembangan sejarah, mula-mula orang Kristen Eropahlah, yang tidak mengenal bahasa-bahasa Timur Tengah, yang menganggap bahwa Allah Islam itu berbeda dari God mereka. Kini sebagian Muslim Indonesia menarik kebanggaan dari rasa eksklusivitas ini. Namun, sejarah perkembangan bahasa-bahasa tampaknya menunjukan bahwa dalam urusan ilahi, penganut-penganut agama-agama samawi ternyata masih bersaudara deka

Jumat, 26 Maret 2010

TALMUD

 
TALMUD9 merupakan Kitab Undang-undang  bagi  bangsa  Yahudi.
Buku  ini terdiri dari banyak jilid dan amat mahal harganya.
Satu set lengkap dari buku  ini  berharga  mulai  dari  yang
paling murah US $ 1.200.- sampai US $ 5.000.- setiap setnya,
dan tergantung dari edisi penerbitannya. Para  Rabbi  Yahudi
menghabiskan   seluruh   waktu  hidupnya  untuk  memperdalam
mempelajari Talmud ini. Tak seorangpun dapat dikatakan mahir
atau  ahli dalam filsafat Yahudi kecuali ia mengetahui benar
tentang isi Talmud. Beberapa tahun yang  lalu  Kolonel  E.N.
Sanctuary    dari   Dinas   Intelligensi   Militer   Amerika
menyediakan dirinya untuk mempelajari  Talmud  ini.  Kolonel
Sanctuary  adalah  seorang patriot dan Nasrani tanpa celaan.
Ia menerbitkan suatu  ringkasan  dalam  bentuk  buku  dengan
judul  "Terbukalah  kedok  Talmud"  (The  Talmud  Unmasked).
Jilid-jilid dari buku ini pun menjadi bahan koleksi dan yang
amat   sukar   diperoleh.   Berikut   di  bawah  ini  adalah
bagian-bagian terbaik dari tulisan Sanctuary yang  merupakan
kutipan-kutipan  dari  halaman-halaman yang sudah jelas atau
pasti referensinya. Memang  disadari  bahwa  kutipan-kutipan
ini  amat  singkat, akan tetapi hendaklah dapat dipergunakan
oleh para pelajar (pembahas)  yang  tekun  dan  patuh  dalam
menghadapi  fakta-fakta  yang kalau tanpa kutipan ini mereka
akan menjadi tidak mengetahui sama sekali.
 
Penyingkatan ini dilakukan atas petunjuk dari Pendeta Gerald
L.K.  Smith  oleh  Pendeta Michael Mountjoy, seorang anggota
staf dari Pendeta Smith tersebut.
 
Enam Bagian Utama Dari Talmud
 
1. ZERAIM.  Tentang  biji-bijian.  Bagian  ini  membicarakan
biji-bijian, buah-buahan, daun-daunan, tumbuh-tumbuhan; baik
dalam penggunaan umum ataupun domestik  tentang  buah-buahan
dan lain-lain.
 
2. MOED. Tentang pesta-pesta (Festival-festival). Bagian ini
membicarakan tentang waktu  kapankah  perayaan  Sabbath  dan
perayaan-perayaan lainnya dimulai, diakhiri dan diperingati.
 
3.  NASCHIM. Tentang wanita. Bagian ini membicarakan tentang
perkawinan  dan  penolakan  isteri  (penyangkalan   terhadap
isteri),  tugas-tugas  mereka,  pertalian  kekeluargaan  dan
penyakit-penyakit .
 
4.  NEZIKIM:   Tentang   kerusakan-kerusakan.   Bagian   ini
membicarakan  tentang kerusakan-kerusakan yang diderita oleh
manusia dan  binatang;  hukuman-hukumannya  dan  penggantian
rugnya.
 
5.  KODASCHIM. Tentang kesucian. Upacara-upacara kurban, dan
bermacam upacara suci keagamaan.
 
6. TOHOROTH. Tentang pembersihan.  Bagian  ini  membicarakan
tentang  tanah  (untuk satru) dan membersihkan tempat-tempat
(wadah-wadah),  alas  tilam  (sarung  bantal,   seprei   dan
lain-lain) serta barang-barang lainnya.
 
Setiap  bagian  dari keenam bagian di atas dibagi lagi dalam
bentuk   buku-buku   atau   risalah-risalah   yang   disebut
MASSIKOTH, dan buku-buku yang dibagi dalam beberapa bab atau
PERAKIM.
 
ZERAIM terdiri dari 11 buku,  MOED  terdiri  dari  12  buku;
NASCHIM  terdiri  dari 7 buku; NEZIKIM terdiri dari 10 buku;
KODASHIM terdiri dari 11 buku dan TOHOROTH terdiri  dari  12
buku (jilid).
 
TALMUD TERDIRI DARI 63 BUKU DALAM 524 BAB
------------------------------------------------------------
 
Beberapa catatan penting dapat dibaca pada:
 
Hal. 20: "Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya dan Kitab
          Suci Talmud."
 
Hal. 21: "Pada tahun 533 Kaisar Justinianus (527-565)
          melarang penyebaran buku-buku Talmud di segenap
          wilayah Kekaisaran Romawi."
         "Dalam abad ke-15 Sri Paus Gregorius IX (1227-1241)
          dan Paus Innoventius IV (1243-1254) mengutuk buku-
          buku Talmud karena berisi segala bentuk kekejian
          dan penghinaan terhadap kebenaran Kekristenan
          (every kind of vileness and blasphemy against
          Christian truth) dan memerintahkan supaya dibakar
          karena buku-buku itu menyebarkan banyak bid'ah-
          bid'ah yang membahayakan."
 
Hal. 22: "Cetakan pertama penerbitan Talmud yang lengkap
          diterbitkan di Venesia pada tahun 1520."
         "Dalam sebuah Muktamar Gereja di Polandia pada
          tahun 1613 para Rabbi dari Jerman mengumumkan
          tidak boleh menerbitkan apa-apa yang menjengkelkan
          kaum Kristen dan menyebabkan pengejaran terhadap
          Israel."
         "Walaupun demikian Talmud diterbitkan di Holland
          pada tahun 1644-48."
 
YESUS KRISTUS DALAM TALMUD
------------------------------------------------------------
 
Hal. 28 dan 29: "Dalam Talmud, Kristus disebut
          OTHO ISCH = "That Man." "Seseorang anak disebut
          sebagai seorang Kristen kalau ia mengikuti ajaran-
          ajaran palsu dari "orang itu" ... (ABHODAH ZARAH)."
         "AKUM dari Maimonides (Rabbi Mozes ben Maimun,
          kelahiran Kordova, Spanyol; 1135-1204) menunjukkan
          kenyataan bahwa terlaranglah untuk ikut serta dalam
          pesta-pesta Kristen dari Natal dan Paskah, karena
          pesta-pesta ini memperingati TALUI, seseorang yang
          dihukum gantung."
 
Hal. 30: "Talmud mengajarkan bahwa Kristus adalah anak tak sah
          dan berada dalam kandungan ketika waktu haid
          (was conceived during menstruation) bahwa dia adalah
          seorang edan/pandir, pembaca mantera, penggoda, dan
          bahwa Kristus disalibkan dan dikuburkan dalam neraka."
 
Hal. 31: "Siti Maryam disebut STADA, sebagai seorang pelacur
          karena ia meninggalkan suaminya dan melakukan
          perzinaan."
 
Hal. 34: "Kemudian Yesus menyerukan NAMA ALLAH dan terus
          menyebutnya hingga datanglah angin yang
          mengangkatnya antara bumi dan langit. Yudas juga
          menyatakan NAMA AGUNG DARI ALLAH dan begitu juga
          diangkat oleh angin. Kemudian Yudas mengucapkan
          nama Tuhan dan mengambil Yesus dan mendorong
          Yesus ke bawah, yaitu ke bumi. Yesus lalu mencoba
          untuk berbuat yang sama terhadap Yudas dan mereka
          berdua pun akhirnya berkelahi. Dan ketika Yudas
          mengetahui bahwa ia tidak dapat memenangkan Yesus
          maka ia mengencingi Yesus dan kedua-duanya yang
          tidak suci lagi itu akhirnya jatuh ke bumi;
          juga tidak dapatlah lagi mereka menggunakan nama
          suci Allah lagi sampai mereka mensucikan diri
          sendiri." (And when Yudas saw he could not win
          over the works of Yesus he pissed on Yesus and
          both being unclean fell to earth; nor could
          they use the Divine name again until they had
          washed themselves)."
 
          Apakah mereka yang percaya akan kebohongan yang
          jahat itu patut menerima kebencian ataupun belas-
          kasihan yang lebih besar, tak dapatlah saya
          katakan apa-apa.
 
Hal. 35: "Dalam buku SANHEDRIN (107 b) kita membaca:
         'MAR berkata: Yesus menggoda secara membujuk,
          mengkorup dan merusakkan Israel."
 
Hal. 36: "Buku ZOHAR III menceritakan bahwa Yesus mati
          seperti binatang dan dikuburkan dalam onggokan
          yang begitu kotor di mana mereka melemparkan
          bangkai-bangkai anjing dan keledai, dan dimana
          putera-putera Esau (yaitu orang-orang Kristen)
          dan Ismail (orang-orang Turki), yaitu mereka
          yang najis dan tidak disunat, dikubur seperti
          bangkai anjing."
 
Hal. 39: "Tidak diizinkan (= diharamkan) untuk tunduk
          atau angkat topi di depan para raja atau
          pendeta yang mengenakan salib pada pakaian
          mereka. Haruslah diperhatikan jangan sampai
          kelihatan kalau tidak dapat melakukan seperti
          ini.Umpama seseorang dapat/boleh melemparkan
          beberapa keping mata uang logam di atas tanah,
          kemudian membongkok untuk mengambilnya sebelum
          dilalui mereka. Dalam hal seperti ini maka
          diperbolehkan untuk membongkok atau mengangkat
          topi di depan mereka."
 
Hal. 40: "Suatu hukum tertulis dari orang-orang Nasara
          ialah "Kalau seorang Yahudi memukulmu pada
          sebuah pipi, palingkanlah yang lainnya juga"
         (Saya tidak pernah melihat orang Kristen
          mematuhi hukum ini, begitu pun Yesus sendiri
          tidak melakukannya. Saya mendapatkan pada KITAB
          PERBUATAN RASUL-RASUL XXIll, ayat 3, bahwa Imam
          Besar memerintahkan mereka yang berdiri di
          dekatnya untuk menampar mulutnya, Paulus tidak
          memalingkan pipinya yang lain; ia mengutuk.
          Hal ini bertentangan terhadap kepercayaan
          mereka dan merusak dasar-dasar atau azas
          dimana Agama mereka itu ditegakkan.
 
NAMA-NAMA YANG DIBERIKAN UNTUK KAUM NASARA DALAM TALMUD
------------------------------------------------------------
 
Hal. 42: "ABHODAH ZARAH, Penyembahan yang aneh, pemujaan
          berhala. Para penyembah berhala. Rabbi AKIBAH
          mengatakan: Bagaimanakah kita tahu bahwa ABHODAH
          ZARAH, seperti seorang wanita yang najis, kemudian
          mengotori mereka yang percaya padanya? Karena
          YESAYA berkata: Engkau akan melemparkan mereka
          seperti kain pembersih haid, dan akan Engkau
          katakan, Jadilah seperti itu sejak waktu itu."
 
Hal. 43: "AKUM, Penyembah bintang-bintang dan planit-planit.
         "OBHDE ELILIM, para pelayan berhala. Ini mempunyai
          arti yang sangat seperti AKUM.
         "MINIM, orang-orang yang menyimpang dari ajaran
          agamanya. Dalam Talmud mereka yang mengikuti
          ajaran yang disebut Gospel adalah orang-orang
          yang menyimpang dari ajaran agama."
         "EDOM-EDOMITES."
 
Hal. 44: "GOI - Ras atau bangsa. Hampir senantiasa yang
          dimaksud adalah orang-orang bukan Yahudi dan para
          penyembah berhala."
         "NOKHRIM - pendatang atau orang asing."
         "AMME HAARETS - penduduk bumi, atau orang yang bodoh."
 
Hal. 45: "BASAR VEDAM - daging dan darah; jasmaniah manusia
          yang sudah pasti akan mengalami kehancuran; yang
          tidak bisa mempunyai perjamuan dengan Tuhan."
 
Hal. 47: "Seorang Yahudi tidak boleh mengassosiasikan dirinya
          dengan orang-orang bukan Yahudi, karena mereka ini
          diperuntukkan untuk ditumpahkan darahnya."
 
Hal. 48: "Mengapakah COIM itu tidak suci? Karena mereka
          memakan barang-barang yang dibenci (yang jijik)
          dan memakan binatang yang merayap pada perutnya."
 
Hal. 49: "Seorang wanita haruslah mencuci kembali dirinya
          kalau ia melihat apa-apa yang tidak suci, seperti
          anjing, keledai, atau People of the earth;
          seorang Kristen, seekor onta, seekor babi, seekor
          kuda atau orang yang berpenyakit kusta."
 
Hal. 50: "Tuhan menciptakan mereka dalam bentuk manusia demi
          kemenangan/keunggulan Bangsa Israel. Akan tetapi
          AKUM diciptakan untuk tujuan tunggalnya yang
          terakhir untuk mengabdi kepada Bangsa Israel siang
          dan malam."
 
Hal. 51: "Hubungan sex dari kaum GOI seperti halnya pada
          binatang." "Kalau hanya kaum menyembah berhala
          saja yang mengadakan hubungan sex, maka dunia ini
          tidak akan untuk selamanya. Karena mereka melahirkan
          bayi-bayi sama halnya seperti anjing."
 
Hal. 52: "Mereka adalah anak-anak dari ular dahulu kala
          yang menggoda Siti Hawa."
 
Hal. 53: "Yang lebih terdahulu dari Ibrahim menyuruh ia
          duduk pada pintu gerbang Gehenna dan menjaga
          jangan sampai (mencegah) siapa saja orang-orang
          yang disunat untuk masuk ke dalamnya; akan tetapi
          semua orang yang tidak disunat akan masuk ke bawah,
          ke dalam neraka." "Juga orang-orang Kristen tidak
          perlu untuk dihindari selama tujuh hari setelah
          mereka mengubur seseorang, seperti tersebut dalam
          Hukum Musa; karena mereka itu bukanlah orang dan
          karena penguburan hewan tidaklah menodai manusia."
 
Hal. 55: "Dilarang untuk berdiri di naungan suatu kuil/
          kelenteng, baik di dalam maupun di luarnya untuk
          jarak 4 cubits (kira-kira 2 meter) dari pintu
          depan. Tidaklah dilarang untuk berdiri dalam
          naungan (bayangan) belakang gereja. Juga tuduhan
          ini tidak dilarang untuk kita kalau gereja itu
          didirikan di suatu tempat yang dahulunya ada jalan
          umum, yang diambil dari rakyat dan kuil itu
          didirikan di atasnya."
 
Hal. 57: "Sembahyang mereka adalah kebodohan dan pelanggaran
          peraturan."
         "Hari Natal merupakan hari bencana mereka."
         "... mereka benar-benar tidak berguna dan jahat."
 
ORANG-ORANG NASARA HARUS DIJAUHI
------------------------------------------------------------
 
Hal. 60: "Karena mereka tidak berguna sama sekali untuk
          ambil bagian dalam kehidupan orang Yahudi. Mereka
          itu najis. Mereka adalah penyembah berhala.
          Mereka adalah pembunuh."
         "Barang siapa memukul seorang Israel, sebenarnya
          seolah-olah ia menampar muka Tuhan Yang Maha Suci
          dan Agung."
         "Hanya orang Yahudilah yang dipandang sebagai
          manusia: Seisi dunia ini semuanya untuknya dan
          segala sesuatu haruslah melayaninya terutama
          'binatang' yang berbentuk orang."
 
Hal. 61: "Seorang Yahudi tidaklah harus memberi hormat kepada
          seorang Kristen."
         "Seorang Yahudi tidak harus menghadap ke muka
          seorang Hakim Kristen."
         "Seorang Kristen tidak boleh dipakai sebagai saksi."
         "Seorang GOI atau pelayan tidak akan mampu untuk
          bertindak sebagai saksi."
 
Hal. 62: "Para sesepuh Yahudi (The Elders) melarang memakan
          roti orang AKUM, jangan sampai dilihat seolah-olah
          bersahabat dengan mereka."
 
Hal. 64: "Tidak diizinkan untuk menjual air kepada AKUM
          kalau diketahui bahwa hal itu akan dijadikan
          untuk air membaptis."
 
Hal. 66: "Seorang anak tidak boleh dikirim kepada AKUM
          untuk diajari akhlak, kesusasteraan atau kesenian,
          karena mereka akan mengarahkan ke arah bid'ah saja."
         "Pertolongan kesehatan dapat diterima dari semua
          pihak kecuali dari para penyembah berhala, orang
          yang berzinah dan pembunuh."
 
ORANG-ORANG NASARA HARUS DIMUSNAHKAN
------------------------------------------------------------
 
Hal. 68: "Mereka yang berbuat baik kepada AKUM tidak akan
          dibangkitkan dari matinya."
 
Hal. 69: "Janganlah kamu berikan hormat apa-apa kepada
          mereka; karena dilarang untuk mengatakan betapa
          baiknya GOI itu."
         "Berhala-berhala mereka haruslah dihancurkan, atau
          sebutlah dengan nama-nama yang merendahkan."
 
Hal. 70: "Sebuah Gereja Kristen tidaklah disebut
          BETH HATTEFILLAH - rumah sembahyang, akan
          tetapi BETH HATTIFLAH, rumah orang suka berlagak
          atau dipuji atau Rumah Dosa."
         "Korban-korban (sesajen) kaum Kristen disebut
          Sesajen Kotoran (tahi)."
 
Hal. 71: "Dilarang mengajarkan suatu ilmu pertukangan/
          kepandaian kepada AKUM."
 
Hal. 72: "Orang Kristen tidak perlu diberitahu kalau mereka
          membayar kelebihan (terlalu banyak) kepada seorang
          Yahudi."
         "Orang Kristen boleh ditipu."
 
Hal. 73: "Seorang Yahudi dibenarkan untuk berpura-pura
          Kristen untuk menipu orang-orang Kristen."
         "Seorang Yahudi dibenarkan untuk mempraktekkan riba
          yang tinggi terhadap orang Kristen."
         "Seorang Yahudi dibenarkan untuk membohongi dan
          bersumpah palsu agar dihukumnya seorang Kristen."
 
Hal. 75: "Seorang Kristen yang sakit tidak boleh ditolong."
         "Seorang wanita Kristen yang akan melahirkan anak
          tidak boleh ditolong."
         "Seorang Kristen yang dalam keadaan bahaya kematian
          tidak boleh ditolong."
 
ORANG-ORANG NASARA HARUS DIBUNUH
------------------------------------------------------------
 
Hal. 77: "Seorang Kristen yang kedapatan mempelajari Hukum
          Israel dapat diganjar kematian (dihukum mati)."
 
Hal. 80: "Jelaslah bahwa penawanan kita akan berakhir sampai
          para penguasa (Raja-raja) dari orang-orang yang
          bukan Yahudi yang menyembah berhala dihancurkan."
         "Kerajaan (kekuasaan) yang berpusat di kota Roma
          ialah satu-satunya yang amat dibenci dari semuanya
          oleh orang-orang Yahudi."