KEBERSERAHAN DIRI

DAMAI SEJAHTERA

BLOG INI HANYA UNTUK MANUSIA YANG MENDAMBAKAN PERDAMAIAN DUNIA KHUSUSNYA ANAK-ANAK ABRAHAM AGAR TERCIPTANYA SEBUAH SYSTEM KEHIDUPAN KEBERSERAHAN DIRI, DAMAI DAN SEJAHTERAH

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat/firman (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tiada kita abdi kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Sabtu, 10 April 2010

Allah Milik Siapa?

Ada tiga agama besar yang bertahan dan sampai hari ini menguat yang lahir di Timur Tengah : Secara kronologis, Yahudi, Kristen, dan Islam. Masing-masing mengaku punya punya jalur komunikasi unik dan istimewa dengan Sang Khalik. Masing-masing punya sapaan akrab sendiri-sendiri pula terhadap yang Ilahi. Di Indonesia ada orang mengangap Allah milik Islam, adapun Kristen dan Yahudi punya Yehovah. Kalau orang Kristen bilang Allah, itu saru, kata mereka.

Kata Allah memang berasal dari bahasa Arab, tapi itu tidak berarti hanya Islam yang mengenal istilah itu. Sudah sejak zaman prasejarah bangsa-bangsa dalam rumpun Semit, yang di dalamnya termasuk Arab dan Israel, mengenal kata itu dalam berbagai varian. Ada Allah, Ilah, El, Eloh, Elohim, Il , dst.

Bangsa Akad (peradaban tertua nomor dua, abad ke-24 sampai ke-22 SM, sesudah Sumeria, yang lahir di Mesopotamia atau Irak sekarang) mengenal Ilu, yang mungkin berarti ‘Yang Mahakuasa’ dan berkaitan dengan makna Terang. Kata ini sejak zaman kuno tersebar luas sehingga juga dikenal dalam bahasa-bahasa barat. Dari bahasa Inggris dan Latin, misalnya, kita ambil kata Iluminasi . Peradaban kuno Timur Tengah itu menganggap kekuasaan atas alam dan hidup manusia berasal dari atau berada dilangit dan bagi mereka, tidak ada benda langit yang tak bercahaya. Kepercayaan ini juga yang melahirkan astrologi, yang masih berlaku keras sampai sekarang.

Oleh bangsa-bangsa politeistik pada zaman sebelum Musa, El atau variannya disembah sebagai yang tertinggi, kepala atau bapa dari semua ilahi. Kata ini juga banyak dipakai sebagai bagian dari nama diri, misalnya Ismael (yang berarti: ‘El mendengarkan’) dan Israel (‘El berhasil’). Namun pada umumnya kata itu lebih dipakai sebagai nama generik, seperti cara kita sekarang pada umumnya memakai kata tuhan, ilah, atau dewa.

El juga dipakai dalam bentuk gabungan, misalnya, El Shadai (Allah Mahakuasa), El Elyon (Allah Maha tinggi), atau El Olam (Allah Mahakekal). Oleh penerjemah-penerjemah Alkitab Kristen Indonesia, kata Allah dipakai untuk menerjemahkan El, Eloh, atau Elohim (bahasa Ibrani) dan Theos, padanan bahasa Yunaninya. Umumnya orang Indonesia kenal kata theos sebagai bagian dari ateis. Theos sendiri masih berkaitan dengan kata dues dan Zeus (Latin) serta deva atau dewa (Sansekerta). Dalam bahasa Inggris kata God yang dipakai.

Dalam Alkitab Kristen bahasa Arab, yang dipakai orang-orang Arab Kristen, kata Allah juga dipakai. Dalam hal ini, kata itu tidak bisa dianggap terjemahan karena justru itulah aslinya, akarnya sama, hanya beda cara pengucapan atau pengembangannya dalam bahasa Ibrani dan bahasa Arab

Nama pribadi Sembahan orang Ibrani, dan kemudian orang Kristen, adalah Yahweh atau Yehovah. Kadang-kadang ditransliterasi sebagai YHWH karena, seperti bahasa-bahasa Semit lain, bahasa Ibrani sebetulnya tidak mengenal huruf hidup. Dalam bentuk pendek atau gabungan kata itu menjadi Yah atau Yahu atau Yo, seperti dalam Haleluya(h), yang berarti ‘mari puji Yah’, atau nama diri Yosua atau Yusak.

Arti Yahweh sendiri mungkin merupakan cerminan dari keunikan Allah sebagai satu-satunya yang patut disembah. Menurut Alkitab Ibrani, ketika Musa disuruh oleh “Allah nenek-moyangnya” membawa bangsanya keluar dari perbudakan di Mesir, dia memberanikan diri menanyakan nama-Nya. Jawabnya,“Aku adalah Aku”.

Menariknya, orang Israel tidak pernah menyuarakan nama pribadi Yahweh. Kalau bertemu tulisan itu , mereka membaca Adonai, yang barangkali bisa kita katakan adalah nama kehormatan, bermakna Tuan atau Tuhan.

Oleh Lembaga Alkitab Indonesia, nama Yahweh ini diterjemahkan TUHAN (semua huruf besar). Adapun kata Tuhan (hanya huruf pertama yang besar) dipakai untuk menerjemahkan Adonai (Ibrani) dan Kyrios (Yunani). Dalam bahasa Inggris padanannya ialah LORD atau Lord.

Dalam perkembangan sejarah, mula-mula orang Kristen Eropahlah, yang tidak mengenal bahasa-bahasa Timur Tengah, yang menganggap bahwa Allah Islam itu berbeda dari God mereka. Kini sebagian Muslim Indonesia menarik kebanggaan dari rasa eksklusivitas ini. Namun, sejarah perkembangan bahasa-bahasa tampaknya menunjukan bahwa dalam urusan ilahi, penganut-penganut agama-agama samawi ternyata masih bersaudara deka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar