KEBERSERAHAN DIRI

DAMAI SEJAHTERA

BLOG INI HANYA UNTUK MANUSIA YANG MENDAMBAKAN PERDAMAIAN DUNIA KHUSUSNYA ANAK-ANAK ABRAHAM AGAR TERCIPTANYA SEBUAH SYSTEM KEHIDUPAN KEBERSERAHAN DIRI, DAMAI DAN SEJAHTERAH

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat/firman (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tiada kita abdi kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Sabtu, 10 April 2010

MANUSIA SEMPURNA

Dalam perjalanan kepribadian manusia, dia mengalami tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda dari sifat atau karakter, perkataan, serta perbuatannya. Keberadaan manusia di bumi tidak diciptakan begitu saja oleh Sang Pencipta, Dia menciptakan manusia dengan satu tujuan tertentu, tanpa diberi tahu kemana arah dan tujuan hidup ini manusia akan binasa. Dia menunjukan kepada manusia jalan hidup yang harus dilaluinya. ia (manusia) bebas memilihnya, apa akan mensyukuri atau mengingkari. Tidak ada paksaan di dalam memilih jalan hidup itu, yang berarti Sang Pencipta -netral-.

Tujuan dari petunjuk itu adalah demi kepentingan dirinya sendiri dalam mencapai tujuan akhir periode penciptaan alam dunia, yaitu alam akhirat. Bagi yang memfungsikan petunjuk itu sebagai Nur atau Ilmu, manusia akan dapat melihat jalan keselamatan, dan bagi yang menyia-yiakan dia akan tersesat ke arah kebinasaan. Bila manusia menyia-yiakan petunjuk Sang Pencipta yang berfungsi menuntun perkembangan mental spiritualnya ke arah kesempurnaan, arah perkembangan itu akan membelok ke arah negative, menjadi makhluk perusak.

Kesempurnaan manusia bukan berada pada kemampuannya berfikir sebagaimana yang didefinisikan oleh orang-orang Jahiliyah (kaum materialis), yang menganggap kesempurnaan manusia karena dia mempunyai akal fikiran. Menurut Sang Pencipta kesempurnaan manusia sebagai ciptaan-Nya, tatkala manusia itu memahami dan meyakini kebenaran firman-firman-Nya, kemudian firman Tuhan itu menjadi tenaga penggerak bagi fikiran, perkataan, dan perbuatan.

Dengan demikian mengertilah kita bahwa manusia yang sempurna adalah manusia yang telah menjadikan firman Tuhan sebagai Ruh dalam dirinya. Sebaliknya manusia yang tidak faham dan tidak meyakini firman Tuhan, dia bukanlah manusia sempurna bahkan di mata Tuhan dipandang sebagai -manusia yang berada didunia orang mati-. Walaupun pada dasarnya tubuh manusia secara fisik atau biologis dirancang dengan sangat sempurna oleh Tuhan, sesuai dengan fitrahnya. Bahkan organ-organ tubuh itu sangat istimewa dan sangat rumit hingga mengungguli peralatan tercanggih di dunia ini.

Ada tertulis didalam kitab Tuhan : “ Maka tatkala Aku akan menyempurnakan ciptaan-Ku, yaitu manusia. Aku tiupkan kedalam dirinya Ruh-Ku”. Kata ditiupkan adalah istilah wahyu, karena ruh adalah firman Tuhan maka ditiupkan ruh artinya diajarkan firman Tuhan atau ilmu Tuhan yang akan menghidupkan umat manusia.

Apabila manusia menolak firman Tuhan dalam dirinya, maka dia berada di dalam dunia orang mati. Dia akan binasa dan tidak akan mencapai kehidupan yang kekal, karena dirinya hanya terdiri dari darah dan daging. Didalam kitab suci dikatakan : “tidaklah sama orang yang hidup dengan orang yang mati”, tentu saja yang dimaksud adalah bukan persamaan antara mayat dengan orang yang hidup, tetapi antara orang yang meyakini firman Tuhan dan orang yang menolak firman Tuhan didalam dirinya.

Di dalam Kitab suci juga di katakan “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan (Mat 4:4). “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya”. (Yak 1:22-26)

Apabila manusia hidup tanpa Firman Tuhan maka dia akan cenderung kepada tarikan kebinatangannya, bahkan lebih buruk dari binatang. Karena dirinya, otaknya, keinginan-keinginanya telah dikuasai oleh nafs nya (nafsu keduniaan, nafsu material), sedangkan nafs itu selalu cenderung kepada keburukan. Karena nafs itu berkuasa bagai raja didalam dirinya dan raja itu selalu memerintahkan fikiran manusia ke jalan yang buruk.”Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang”. (Yusuf : 53)

Ada tertulis didalam Kitab suci : “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al Jatsiyah : 23).
“Tahukah kamu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,
Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (Al Furqaan : 43-44)

Karena dirinya telah berilah kepada hawa nafs -aku- menjadi ukuran kebenaran, sehingga tindakan-tindakan apapun yang memuaskan -aku- adalah kebenaran. Maka ukuran kebenaran adalah pragmatis, apa yang menurut dan menguntungkan -aku- itu adalah kebenaran. walaupun itu perbuatan jahat, tetapi tatkala memuaskan hawa nafsunya, maka hal itu dilihatnya sebagai perbuatan yang baik. Nafs atau -daya sadar diri- yang ada di dalam qolbu itu sifatnya sangat tergantung pada syahwat, yaitu kecenderungan pada daya hidup biologis yang bekerja dalam jasad manusia. Sehingga menjadi MANUSIA ROBOT yang tidak memiliki rasa (Emotional Quotient), manusia robot yang hanya melihat sesuatu berdasarkan angka-angka keuntungan materi.

Tercabutnya daya qolbu atau kemampuan qolbu untuk memahami kebenaran firman Tuhan (Spiritual Quotient) menyebabkan orang menjadi materialistic dan tamak akan harta. Dengan demikian eksistensinya sangat ditentukan oleh kepuasan syahwat. Jika seseorang memiliki sarana syahwat yang cukup dia akan mempertahankannya untuk jangka panjang ke depan, sehingga langkah penghematan dan deposito akan dia lakukan. Tetapi jika sarana syahwat tidak terpenuhi yang terjadi adalah kesusahan dan kegelisahan yang membuat hidupnya sangat menderita, oleh sebab itu manusia yang paling menderita adalah manusia materialis. Apabila dirinya kaya, dia akan menjadi kikir walaupun kepada dirinya sendiri (efficiency), dan jika terjadi resesi, dunia seperti akan kiamat.

Anggapan orang-orang atau kaum materialis yang beranggapan, tidak ada manusia yang sempurna didunia ini adalah SALAH!!. Kesempurnaan manusia bukan karena tubuhnya yang indah, bersih, seksi, atau menarik lawan jenisnya. Bukan juga karena memiliki harta yang melimpah, status social,jabatan yang tinggi, serta memiliki segalanya. Menurut Tuhan MANUSIA SEMPURNA adalah manusia yang terbebas dari jajahan hawa nafsunya dan mampu mendayagunakan ketiga sarana yang Tuhan berikan kepadanya, yaitu pendengaran, pengelihatan, dan akal fikiran untuk mempelajari firman-firman Tuhan. Memahami dan meyakini agar dia memiliki Ruh Sang Pencipta, Pengatur Semesta Alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar