TALMUD9 merupakan Kitab Undang-undang bagi bangsa Yahudi. Buku ini terdiri dari banyak jilid dan amat mahal harganya. Satu set lengkap dari buku ini berharga mulai dari yang paling murah US $ 1.200.- sampai US $ 5.000.- setiap setnya, dan tergantung dari edisi penerbitannya. Para Rabbi Yahudi menghabiskan seluruh waktu hidupnya untuk memperdalam mempelajari Talmud ini. Tak seorangpun dapat dikatakan mahir atau ahli dalam filsafat Yahudi kecuali ia mengetahui benar tentang isi Talmud. Beberapa tahun yang lalu Kolonel E.N. Sanctuary dari Dinas Intelligensi Militer Amerika menyediakan dirinya untuk mempelajari Talmud ini. Kolonel Sanctuary adalah seorang patriot dan Nasrani tanpa celaan. Ia menerbitkan suatu ringkasan dalam bentuk buku dengan judul "Terbukalah kedok Talmud" (The Talmud Unmasked). Jilid-jilid dari buku ini pun menjadi bahan koleksi dan yang amat sukar diperoleh. Berikut di bawah ini adalah bagian-bagian terbaik dari tulisan Sanctuary yang merupakan kutipan-kutipan dari halaman-halaman yang sudah jelas atau pasti referensinya. Memang disadari bahwa kutipan-kutipan ini amat singkat, akan tetapi hendaklah dapat dipergunakan oleh para pelajar (pembahas) yang tekun dan patuh dalam menghadapi fakta-fakta yang kalau tanpa kutipan ini mereka akan menjadi tidak mengetahui sama sekali. Penyingkatan ini dilakukan atas petunjuk dari Pendeta Gerald L.K. Smith oleh Pendeta Michael Mountjoy, seorang anggota staf dari Pendeta Smith tersebut. Enam Bagian Utama Dari Talmud 1. ZERAIM. Tentang biji-bijian. Bagian ini membicarakan biji-bijian, buah-buahan, daun-daunan, tumbuh-tumbuhan; baik dalam penggunaan umum ataupun domestik tentang buah-buahan dan lain-lain. 2. MOED. Tentang pesta-pesta (Festival-festival). Bagian ini membicarakan tentang waktu kapankah perayaan Sabbath dan perayaan-perayaan lainnya dimulai, diakhiri dan diperingati. 3. NASCHIM. Tentang wanita. Bagian ini membicarakan tentang perkawinan dan penolakan isteri (penyangkalan terhadap isteri), tugas-tugas mereka, pertalian kekeluargaan dan penyakit-penyakit . 4. NEZIKIM: Tentang kerusakan-kerusakan. Bagian ini membicarakan tentang kerusakan-kerusakan yang diderita oleh manusia dan binatang; hukuman-hukumannya dan penggantian rugnya. 5. KODASCHIM. Tentang kesucian. Upacara-upacara kurban, dan bermacam upacara suci keagamaan. 6. TOHOROTH. Tentang pembersihan. Bagian ini membicarakan tentang tanah (untuk satru) dan membersihkan tempat-tempat (wadah-wadah), alas tilam (sarung bantal, seprei dan lain-lain) serta barang-barang lainnya. Setiap bagian dari keenam bagian di atas dibagi lagi dalam bentuk buku-buku atau risalah-risalah yang disebut MASSIKOTH, dan buku-buku yang dibagi dalam beberapa bab atau PERAKIM. ZERAIM terdiri dari 11 buku, MOED terdiri dari 12 buku; NASCHIM terdiri dari 7 buku; NEZIKIM terdiri dari 10 buku; KODASHIM terdiri dari 11 buku dan TOHOROTH terdiri dari 12 buku (jilid). TALMUD TERDIRI DARI 63 BUKU DALAM 524 BAB ------------------------------------------------------------ Beberapa catatan penting dapat dibaca pada: Hal. 20: "Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya dan Kitab Suci Talmud." Hal. 21: "Pada tahun 533 Kaisar Justinianus (527-565) melarang penyebaran buku-buku Talmud di segenap wilayah Kekaisaran Romawi." "Dalam abad ke-15 Sri Paus Gregorius IX (1227-1241) dan Paus Innoventius IV (1243-1254) mengutuk buku- buku Talmud karena berisi segala bentuk kekejian dan penghinaan terhadap kebenaran Kekristenan (every kind of vileness and blasphemy against Christian truth) dan memerintahkan supaya dibakar karena buku-buku itu menyebarkan banyak bid'ah- bid'ah yang membahayakan." Hal. 22: "Cetakan pertama penerbitan Talmud yang lengkap diterbitkan di Venesia pada tahun 1520." "Dalam sebuah Muktamar Gereja di Polandia pada tahun 1613 para Rabbi dari Jerman mengumumkan tidak boleh menerbitkan apa-apa yang menjengkelkan kaum Kristen dan menyebabkan pengejaran terhadap Israel." "Walaupun demikian Talmud diterbitkan di Holland pada tahun 1644-48." YESUS KRISTUS DALAM TALMUD ------------------------------------------------------------ Hal. 28 dan 29: "Dalam Talmud, Kristus disebut OTHO ISCH = "That Man." "Seseorang anak disebut sebagai seorang Kristen kalau ia mengikuti ajaran- ajaran palsu dari "orang itu" ... (ABHODAH ZARAH)." "AKUM dari Maimonides (Rabbi Mozes ben Maimun, kelahiran Kordova, Spanyol; 1135-1204) menunjukkan kenyataan bahwa terlaranglah untuk ikut serta dalam pesta-pesta Kristen dari Natal dan Paskah, karena pesta-pesta ini memperingati TALUI, seseorang yang dihukum gantung." Hal. 30: "Talmud mengajarkan bahwa Kristus adalah anak tak sah dan berada dalam kandungan ketika waktu haid (was conceived during menstruation) bahwa dia adalah seorang edan/pandir, pembaca mantera, penggoda, dan bahwa Kristus disalibkan dan dikuburkan dalam neraka." Hal. 31: "Siti Maryam disebut STADA, sebagai seorang pelacur karena ia meninggalkan suaminya dan melakukan perzinaan." Hal. 34: "Kemudian Yesus menyerukan NAMA ALLAH dan terus menyebutnya hingga datanglah angin yang mengangkatnya antara bumi dan langit. Yudas juga menyatakan NAMA AGUNG DARI ALLAH dan begitu juga diangkat oleh angin. Kemudian Yudas mengucapkan nama Tuhan dan mengambil Yesus dan mendorong Yesus ke bawah, yaitu ke bumi. Yesus lalu mencoba untuk berbuat yang sama terhadap Yudas dan mereka berdua pun akhirnya berkelahi. Dan ketika Yudas mengetahui bahwa ia tidak dapat memenangkan Yesus maka ia mengencingi Yesus dan kedua-duanya yang tidak suci lagi itu akhirnya jatuh ke bumi; juga tidak dapatlah lagi mereka menggunakan nama suci Allah lagi sampai mereka mensucikan diri sendiri." (And when Yudas saw he could not win over the works of Yesus he pissed on Yesus and both being unclean fell to earth; nor could they use the Divine name again until they had washed themselves)." Apakah mereka yang percaya akan kebohongan yang jahat itu patut menerima kebencian ataupun belas- kasihan yang lebih besar, tak dapatlah saya katakan apa-apa. Hal. 35: "Dalam buku SANHEDRIN (107 b) kita membaca: 'MAR berkata: Yesus menggoda secara membujuk, mengkorup dan merusakkan Israel." Hal. 36: "Buku ZOHAR III menceritakan bahwa Yesus mati seperti binatang dan dikuburkan dalam onggokan yang begitu kotor di mana mereka melemparkan bangkai-bangkai anjing dan keledai, dan dimana putera-putera Esau (yaitu orang-orang Kristen) dan Ismail (orang-orang Turki), yaitu mereka yang najis dan tidak disunat, dikubur seperti bangkai anjing." Hal. 39: "Tidak diizinkan (= diharamkan) untuk tunduk atau angkat topi di depan para raja atau pendeta yang mengenakan salib pada pakaian mereka. Haruslah diperhatikan jangan sampai kelihatan kalau tidak dapat melakukan seperti ini.Umpama seseorang dapat/boleh melemparkan beberapa keping mata uang logam di atas tanah, kemudian membongkok untuk mengambilnya sebelum dilalui mereka. Dalam hal seperti ini maka diperbolehkan untuk membongkok atau mengangkat topi di depan mereka." Hal. 40: "Suatu hukum tertulis dari orang-orang Nasara ialah "Kalau seorang Yahudi memukulmu pada sebuah pipi, palingkanlah yang lainnya juga" (Saya tidak pernah melihat orang Kristen mematuhi hukum ini, begitu pun Yesus sendiri tidak melakukannya. Saya mendapatkan pada KITAB PERBUATAN RASUL-RASUL XXIll, ayat 3, bahwa Imam Besar memerintahkan mereka yang berdiri di dekatnya untuk menampar mulutnya, Paulus tidak memalingkan pipinya yang lain; ia mengutuk. Hal ini bertentangan terhadap kepercayaan mereka dan merusak dasar-dasar atau azas dimana Agama mereka itu ditegakkan. NAMA-NAMA YANG DIBERIKAN UNTUK KAUM NASARA DALAM TALMUD ------------------------------------------------------------ Hal. 42: "ABHODAH ZARAH, Penyembahan yang aneh, pemujaan berhala. Para penyembah berhala. Rabbi AKIBAH mengatakan: Bagaimanakah kita tahu bahwa ABHODAH ZARAH, seperti seorang wanita yang najis, kemudian mengotori mereka yang percaya padanya? Karena YESAYA berkata: Engkau akan melemparkan mereka seperti kain pembersih haid, dan akan Engkau katakan, Jadilah seperti itu sejak waktu itu." Hal. 43: "AKUM, Penyembah bintang-bintang dan planit-planit. "OBHDE ELILIM, para pelayan berhala. Ini mempunyai arti yang sangat seperti AKUM. "MINIM, orang-orang yang menyimpang dari ajaran agamanya. Dalam Talmud mereka yang mengikuti ajaran yang disebut Gospel adalah orang-orang yang menyimpang dari ajaran agama." "EDOM-EDOMITES." Hal. 44: "GOI - Ras atau bangsa. Hampir senantiasa yang dimaksud adalah orang-orang bukan Yahudi dan para penyembah berhala." "NOKHRIM - pendatang atau orang asing." "AMME HAARETS - penduduk bumi, atau orang yang bodoh." Hal. 45: "BASAR VEDAM - daging dan darah; jasmaniah manusia yang sudah pasti akan mengalami kehancuran; yang tidak bisa mempunyai perjamuan dengan Tuhan." Hal. 47: "Seorang Yahudi tidak boleh mengassosiasikan dirinya dengan orang-orang bukan Yahudi, karena mereka ini diperuntukkan untuk ditumpahkan darahnya." Hal. 48: "Mengapakah COIM itu tidak suci? Karena mereka memakan barang-barang yang dibenci (yang jijik) dan memakan binatang yang merayap pada perutnya." Hal. 49: "Seorang wanita haruslah mencuci kembali dirinya kalau ia melihat apa-apa yang tidak suci, seperti anjing, keledai, atau People of the earth; seorang Kristen, seekor onta, seekor babi, seekor kuda atau orang yang berpenyakit kusta." Hal. 50: "Tuhan menciptakan mereka dalam bentuk manusia demi kemenangan/keunggulan Bangsa Israel. Akan tetapi AKUM diciptakan untuk tujuan tunggalnya yang terakhir untuk mengabdi kepada Bangsa Israel siang dan malam." Hal. 51: "Hubungan sex dari kaum GOI seperti halnya pada binatang." "Kalau hanya kaum menyembah berhala saja yang mengadakan hubungan sex, maka dunia ini tidak akan untuk selamanya. Karena mereka melahirkan bayi-bayi sama halnya seperti anjing." Hal. 52: "Mereka adalah anak-anak dari ular dahulu kala yang menggoda Siti Hawa." Hal. 53: "Yang lebih terdahulu dari Ibrahim menyuruh ia duduk pada pintu gerbang Gehenna dan menjaga jangan sampai (mencegah) siapa saja orang-orang yang disunat untuk masuk ke dalamnya; akan tetapi semua orang yang tidak disunat akan masuk ke bawah, ke dalam neraka." "Juga orang-orang Kristen tidak perlu untuk dihindari selama tujuh hari setelah mereka mengubur seseorang, seperti tersebut dalam Hukum Musa; karena mereka itu bukanlah orang dan karena penguburan hewan tidaklah menodai manusia." Hal. 55: "Dilarang untuk berdiri di naungan suatu kuil/ kelenteng, baik di dalam maupun di luarnya untuk jarak 4 cubits (kira-kira 2 meter) dari pintu depan. Tidaklah dilarang untuk berdiri dalam naungan (bayangan) belakang gereja. Juga tuduhan ini tidak dilarang untuk kita kalau gereja itu didirikan di suatu tempat yang dahulunya ada jalan umum, yang diambil dari rakyat dan kuil itu didirikan di atasnya." Hal. 57: "Sembahyang mereka adalah kebodohan dan pelanggaran peraturan." "Hari Natal merupakan hari bencana mereka." "... mereka benar-benar tidak berguna dan jahat." ORANG-ORANG NASARA HARUS DIJAUHI ------------------------------------------------------------ Hal. 60: "Karena mereka tidak berguna sama sekali untuk ambil bagian dalam kehidupan orang Yahudi. Mereka itu najis. Mereka adalah penyembah berhala. Mereka adalah pembunuh." "Barang siapa memukul seorang Israel, sebenarnya seolah-olah ia menampar muka Tuhan Yang Maha Suci dan Agung." "Hanya orang Yahudilah yang dipandang sebagai manusia: Seisi dunia ini semuanya untuknya dan segala sesuatu haruslah melayaninya terutama 'binatang' yang berbentuk orang." Hal. 61: "Seorang Yahudi tidaklah harus memberi hormat kepada seorang Kristen." "Seorang Yahudi tidak harus menghadap ke muka seorang Hakim Kristen." "Seorang Kristen tidak boleh dipakai sebagai saksi." "Seorang GOI atau pelayan tidak akan mampu untuk bertindak sebagai saksi." Hal. 62: "Para sesepuh Yahudi (The Elders) melarang memakan roti orang AKUM, jangan sampai dilihat seolah-olah bersahabat dengan mereka." Hal. 64: "Tidak diizinkan untuk menjual air kepada AKUM kalau diketahui bahwa hal itu akan dijadikan untuk air membaptis." Hal. 66: "Seorang anak tidak boleh dikirim kepada AKUM untuk diajari akhlak, kesusasteraan atau kesenian, karena mereka akan mengarahkan ke arah bid'ah saja." "Pertolongan kesehatan dapat diterima dari semua pihak kecuali dari para penyembah berhala, orang yang berzinah dan pembunuh." ORANG-ORANG NASARA HARUS DIMUSNAHKAN ------------------------------------------------------------ Hal. 68: "Mereka yang berbuat baik kepada AKUM tidak akan dibangkitkan dari matinya." Hal. 69: "Janganlah kamu berikan hormat apa-apa kepada mereka; karena dilarang untuk mengatakan betapa baiknya GOI itu." "Berhala-berhala mereka haruslah dihancurkan, atau sebutlah dengan nama-nama yang merendahkan." Hal. 70: "Sebuah Gereja Kristen tidaklah disebut BETH HATTEFILLAH - rumah sembahyang, akan tetapi BETH HATTIFLAH, rumah orang suka berlagak atau dipuji atau Rumah Dosa." "Korban-korban (sesajen) kaum Kristen disebut Sesajen Kotoran (tahi)." Hal. 71: "Dilarang mengajarkan suatu ilmu pertukangan/ kepandaian kepada AKUM." Hal. 72: "Orang Kristen tidak perlu diberitahu kalau mereka membayar kelebihan (terlalu banyak) kepada seorang Yahudi." "Orang Kristen boleh ditipu." Hal. 73: "Seorang Yahudi dibenarkan untuk berpura-pura Kristen untuk menipu orang-orang Kristen." "Seorang Yahudi dibenarkan untuk mempraktekkan riba yang tinggi terhadap orang Kristen." "Seorang Yahudi dibenarkan untuk membohongi dan bersumpah palsu agar dihukumnya seorang Kristen." Hal. 75: "Seorang Kristen yang sakit tidak boleh ditolong." "Seorang wanita Kristen yang akan melahirkan anak tidak boleh ditolong." "Seorang Kristen yang dalam keadaan bahaya kematian tidak boleh ditolong." ORANG-ORANG NASARA HARUS DIBUNUH ------------------------------------------------------------ Hal. 77: "Seorang Kristen yang kedapatan mempelajari Hukum Israel dapat diganjar kematian (dihukum mati)." Hal. 80: "Jelaslah bahwa penawanan kita akan berakhir sampai para penguasa (Raja-raja) dari orang-orang yang bukan Yahudi yang menyembah berhala dihancurkan." "Kerajaan (kekuasaan) yang berpusat di kota Roma ialah satu-satunya yang amat dibenci dari semuanya oleh orang-orang Yahudi."
Jumat, 26 Maret 2010
TALMUD
Senin, 22 Maret 2010
HAL TENTANG CINTA
dan diantara manusia ada yang mengabdi tandingan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagai mana mencintai Allah, Orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah, seandainya orang yang dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksaan (Pada hari tegaknya hukum Allah) , bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa siksaan (Adzab) Allah sangat berat Qs, 2/165.
Bila sedikit saja kita mau mencerdasi dari redaksi firman Allah diatas sangatlah jelas bahwa hidup ini hanya berpokok dan bersumber dari masalah CINTA. Berbicara cinta bagaikan sebuah bom nuklir, yang ledakanya mampu membuat efek rusaknya sangat dahsyat, begitu pula nilai kebaikannya pun sangat banyak bila digunakan dengan benar.
Hidup manusia umumnya hadzal yaum (Sekarang) mempunyai Pola yang sangat monoton yaitu pola 7-5. Dimana pergi jam 7pagi dan pulang jam 5 sore. yang mereka kejar hanyalah untuk memenuhi sayhwat hawa nafsunya saja. demi gairahnya itu manusia-manusia rela berkorban apapun untuk mendapatkan apa yang mereka ingini, bahkan mereka mau dan rela mengorbankan harga dirinya sebagai makhluk yang paling sempurna yang Tuhan ciptakan menjadi makhluk yang paling rendah demi klimaks hawa nafsunya.
mereka mengabdi kepada tandingan-tandingan selain Allah berupa 8 Faktor. 8 Faktor menggambarkan pengabdian selain Allah yaitu, Seks, anak-anak, harta yang banyak jenis uang dan perhiasan, kendaraan -kendaraan mewah, perusahaan, bianatang ternak, , dan properti atau perumahan,(QS,3;14) mereka jadikan semuanya itu sebagai bentuk pengabdian selain Allah. pandanga hidupnya hanya tertuju pada yang demikian ,mereka bekerja siang-malam untuk tujuan itu, mereka berkonsentrasi mencurahkan tenaga, pikiran, harta, nyawa bahkan harga diri demi mendapatkan yang mereka cintai yaitu 8 faktor tadi (Diatas).
Mereka mencintainya sebagai mana mencintai Allah, mereka sangat takut kehilangan dan bahkan mereka berkata "ini milik milik saya, hasil keringat saya, tidak ada sedikitpun campur tangan Allah dalam mendapatkan semua ini, matilah saya bila tidak ada ini semua"
Dalam bahasa arab HUB artinya adalah Cinta, gampangnya adalah kata HUB (Arab) sama dengan HOBY, ketika seseorang sudah hoby kepada sesuatu pastilah seseorang itu rela mengorbankan segalanya demi yang menjadi hoby nya itu, salah satu contoh ketika saudara sudah hoby memancing. pastilah saudara mengorbanka waktu saudara, tenaga saudara, harta saudara, bahkan pikiran saudara demi hobinya itu. kondisi tidak ada uang PUN - saudara mau berani pinjam kiri-kanan, depan-belakang, demi hobi saudara tanpa menghiraukan anak-istri, waktu hujan atau malam bahkan perut lapar sekalipun . (Sebegitu hoby/cintanya dia kepada memancing)
begitu pula keCINTA-AN kepada Allah bahkan selain kepada Allah, rela dikorbankan semuanya. namun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah, Kenapa???.. ketika yang tidak hoby kepada Allah itulah sebenarnya orang yang Dzalim, jadi orang dikatakan dzolim manakala mereka mempunyai kecintaan kepada selain Allah,pada umunya manusia berbuat kerusakan dan berbuat kejahatan adalah efek dari mempunyai kecintaan selain dari Allah, Orang-orang beriman mengetahui ketika didepannya ada kecintaan selain kepada Allah maka hasilnya adalah adzab yang sangat keras dari Allah.
Janganlah kamu mengumpulkan harta dibumi: dibumi ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar dan mencurinya, Tetapi kumpulkanlah bagimu harta disurga: disurga ngengat dan karat
tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena dimana hartamu berada disitu juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh,jika matamu baik teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat gelaplah seluruh tubuhmu. Tidak ada seorang dapat mengabdi (Mencintai) kepada dua Tuan. karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seseorang dan tidak mengindahkan yang lain, kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Mat 6 19-24.
Allah Maha pecemburu dia tidak mau disejajarkan dengan apapun apalagi mempersekutukanya.
Kecintaan kepada selain dari Allah sama dengan mempersekutukanya, Orang-orang beriman menjadikan 8 Faktor sebagai sarana untuk mencintai Allah agar Allah Pun mencintainya. ingat mempersekutukan Allah perbuatan dosa besar tidak diampuni, dan merupakan pekerjaan yang menajiskan manusia, sehingga manusia yang memeprsekutukan Nya mendapat gelar NAJIS, tidak tertulis di kitab-kitab Allah binatang yang disebut najis kecuali orang yang mempersekutukan Nya.
Jadi Bila kesadaran kita sudah digunakan barulah kita bisa menyadari bahwa ajara seluruh Nabi dan Rosul Nya hanyalah mengajarkan Perkara Cinta, Karena cinta adalah hukum yang utama, LAILAHAILLALLOH, Tiada yang memotifasi,yang dicintai,yang menjadi tujuan hanyalah Allah.
CINTA KEPADA SIAPA ANDA?...
HAL PERSAKSIAN
Salam sejahterah.....
Saudaraku.
Titik ini yang disebut titik PERSAKSIAN / KESAKSIAN.
hal persaksian menuntut 3 Hal, yaitu:
1. Adanya pemahaman yang kuat tentang Ke Illahan didalam Qolbu (Otak)
2. Adanya ikrar, pernyataan yang keluar dari mulut bukan didalam hati sehingga ada saksi yang mendengar tentang ikranya tersebut.
3. Adanya Pembuktian / penggenapan atas keyakinan dan ikranya tersebut.
Bila 3 tiga hal tersebut tidak dilaksanakan, persaksiannya hanyalah dusta.
Sudahkah kita memahami betul tentang PERSAKSIAN / KESAKSIAN KITA.??....
Atau hanya sebatas kata-kata. atau Selogan kosong tanpa arti ?!..
Jadikanlah kesaksian kita kepada Allah sebagai spirit of god, karena persaksian butuh bukti bukan hanya janji. Ketika sudah tidak memahami hal tentang kesaksian maka semua perbuatanya hanyalah kesia-siaan.
Salam sejahtera... bagi orang-orang yang telah membuat persaksian kepada Allah. Allahnya Alam semesta, Allahnya Abraham, Allahnya kita semua.
Saudaraku.
sedikit dalam catatan ini kita ingat kembali sejarah tentang perjalanan hidup kita, terutama detik-detik pengakuan keimanan kita kepada Tuhan, dimana titik balik perubahan itu berada pada pola pikir dan pola hidup yang menjadi salah satu bukti pengakuan keimanan kita.
Titik itulah yang menentukan dikatakan beriman atau tidaknya manusia, Titik itulah menentukan status drajat manusia, titik itu juga yang mencetak manusia- manusia yang tangguh dalam menghadapi segala ujian, titik itu juga yang menetukan kadar ke Ikhlasan manusia. begitu pula titik ini mampu menciptakan manusia menjadi manusia yang munafik, fasiq, musyriq, dan menjadikan gelar penghianat kepada tuhannya manusia.
Titik ini yang disebut titik PERSAKSIAN / KESAKSIAN.
Bila kita mau mencerdasi kata Saksi adalah: memahami betul situasi kondisi waktu dan tempat kejadian. dan mampu menjelaskan sejelas-jelasnya, seterang-terangnya kejadiannya, dan dia berada pada situasi dan kondisi kejadian tersebut dalam keadaan sadar. Di dalam ajaran para Nabi dan Rosul-Rosul Allah, persaksian tidak dapat lepas dari konsep penyebaran da'wahnya, sebab semua berawal dari persaksian. keimanan sesorang kepada Tuhan atau Tuan Allah diawali dengan yang disebut persaksian/kesaksian. karena ini yang menjadi spirit of god, yang menjadi Ruhul Quddus bagi setiap perjuangan para Nabi dan Rosul-Nya didalam mengimani atau penandaan(Mematerai) keimanan manusia.
Didalam bahasa arab kesaksian disebut Syahadah/Syahid,didalam ajaran nasrani disebut persaksian. Banyak orang mengira ketika seseorang telah MENGUCAPKAN kalimah syahadah berarti dia sudah dikatakan beriman kepada Allah,dia sudah dikatakan muslim, kalau orang yang mengucap Syahadah dari luar orang muslim maka orang itu disebut Mualaf(Orang yang baru masuk islam). Femahaman yang seperti itu yang beredar sekarang ini. apakah seperti itu???... mari kita sama-sama memahami bersama kata persaksian
Secara etimologi Kata ASYHADUANLLAILAHAILLOLLOH. yaitu Aku bersaksi tiada Illah kecuali Allah.
huruf Alif adalah domir dari Ana atau aku, - Asyhadu berasal dari kata Syahada (Huruf arab Syin, Ha besar dan huruf dal) -Lailaha- berasal dari kata illah yang berarti sesuatu yang dicintai, sesuatu yang memotifasi, sesuatu yamg mengerakan keinginan manusia,karena Illah bukan tuhan. kata -Illolloh adalah Allah yang berarti ismun Illah Al-haq yaitu yang paling Haq dicintai, diibadati, dan yang Haq mengerakan keinginan manusia, karena disamping yang paling Haq diibadati/yang diabdi yaitu Allah ada pengabdian-pengabdian lain selain Allah seperti Qs, 3:14.
ketika bersyahadah(Bersaksi) berarti kita harus memahami betul situasi kondisi apa yang sedang terjadi dan kita harus mampu menjelaskan tentang persaksian kita, ketika persaksian kita tidak memahami betul situasi,kondisi, waktu dan tempat serta tidak dapat menjelaskan, maka kita bisa dikatakan saksi PALSU. Hal tentang ke-ILLAHAN menjadi batal karena kesaksiannya adalah dusta. baik Persaksian dari Yahudi, Nasrani, maupun dari Islam.
Dengan kalimat yang mudah dimengerti, kalimat Asyhaduallaillahaillolloh berarti " Aku mengerti , memahami (tahu) betul situasi kondisiku waktu dan tempat ku berada secara sadar dan aku dapat menjelaskan bahwa tidak ada yang memotifasi diriku, tidak ada yang menggerakkan aku, tidak ada yang menjadi pengabdianku Hanyalah Illah yang Haq yaitu Allah."
Ada tertulis dalam kitab Allah, Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena meraka tidak menegenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. Roma 10:2-3
Didalam Al-Kitab firman Allah tertulis Bahwa meraka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar yang berarti kesaksian mereka hanyalah kesia-siaan, walau pun mereka benar-benar khusu' dan giat dalam hal ibadah tetapi dalam ibadahnya tidak ada pengertian-pengertian yang benar, seperti halnya mereka bersyahadah tetapi tidak mengerti tentang bersyahadahya, baru sekedar mengucap mereka sudah merasa beriman kepada Allah, sudah merasa benar. Ke GR an..
Hal orang dikatakan beriman berarti dia sudah mengenapi persaksianya untuk Allah, dan hal yang sangat terpenting perlu diingat adalah orang tidak bisa beriman dan mengadakan persaksian dengan Allah, manakala tidak ada orang yang datang kepadanya kemudian menjelaskan tentang kabar gembira, tentang keimanan kepada Allah, kemudian orang itu tunduk iman kepada Allah atau kafir kepadaNya.
hal persaksian menuntut 3 Hal, yaitu:
1. Adanya pemahaman yang kuat tentang Ke Illahan didalam Qolbu (Otak)
2. Adanya ikrar, pernyataan yang keluar dari mulut bukan didalam hati sehingga ada saksi yang mendengar tentang ikranya tersebut.
3. Adanya Pembuktian / penggenapan atas keyakinan dan ikranya tersebut.
Bila 3 tiga hal tersebut tidak dilaksanakan, persaksiannya hanyalah dusta.
Sudahkah kita memahami betul tentang PERSAKSIAN / KESAKSIAN KITA.??....
Atau hanya sebatas kata-kata. atau Selogan kosong tanpa arti ?!..
Jadikanlah kesaksian kita kepada Allah sebagai spirit of god, karena persaksian butuh bukti bukan hanya janji. Ketika sudah tidak memahami hal tentang kesaksian maka semua perbuatanya hanyalah kesia-siaan.
Salam sejahtera... bagi orang-orang yang telah membuat persaksian kepada Allah. Allahnya Alam semesta, Allahnya Abraham, Allahnya kita semua.
MEMBACA ALAM MEMBACA AYAT
Selama ini, sementara ahli hanya membahas sunnatulloh dalam kaitannya dengan hukum akwan secara fisik biologis, yaitu sunnah pada kehidupan alam tetapi melupakan (bahkan tidak memahami) sunnatulloh yang dilukiskan Alloh lewat firman-firman-Nya dalam Kitab-kitab Suci termasuk Al- Quran. Kalaupun pembahasan tentang ayat-ayat alam ini dilakukan, maka para ahli memakai pendekatan disiplin keilmuan masing-masing ahli bukan dalam perspektif Al- Quran sebagai hudan (petunjuk) bagi tugas kerosulan Muhammad saat itu dan relasinya dengan generasi Islam kini dan yang akan datang. Hal ini mengakibatkan, tafsir-tafsir yang ditulis oleh para ahli selama ini belum sanggup membangkitkan spiritual dan minat manusia untuk menjadikan Al- Quran itu sebagai Kitab yang “Hidup” yang dijadikan sebagai wahyu Allah yang instruksional dan actual bagi mereka yang membacanya.
Sebagai seorang mu’min kepada Kitab-kitab Allah, harus mampu menempatkan dan melihat tujuan sunnatullah pada alam dan ayat-ayat kawniyah (alam) sebagai aayaatin li ulil albab; tanda-tanda bagi orang-orang yang cerdas. Karena fungsi ayat-ayat itu adalah hudan lin naas; petunjuk bagi manusia, maka Allah akan memperlihatkan dan membukakan rahasia ghoib dari makna ayat-ayat kawniyah itu kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah ingin berbicara dan menjelaskan kepada manusia melalui alam dan sunnatulloh di dalam kehidupan manusia, sehingga akan lebih mudah untuk difahami dan diingat bukan sebaliknya.
Ayat Kawniyah, Ayat Mutasyabihat
Al- Quran banyak bercerita tentang alam, baik yang sifatnya makro maupun alam mikro, yang sebenarnya itu hanya bahasa pengantar dari Allah agar manusia mampu mencermati tentang adanya sunnatulloh di dalam diri dan masyarakat manusia dari zaman ke zaman. Sebagai bahasa pengantar, ayat-ayat alam itu sendiri menyimpan makna sesungguhnya di balik tekstual ayat. Allah ingin mengantarkan manusia kepada pemahaman sesungguhnya dengan memakai ayat-ayat alam yang inderawi, sehingga lebih mudah untuk diingat dan dipahami. Seperti makna kata air sebagai symbol wahyu, langit sebagai symbol dari pemimpin atau penguasa, dan bumi sebagai perumpamaan dari rakyat yang musti dilindungi dan diayomi.
Bruno Guiderdoni (2006: 62) menjelaskan, demi kontinuitas pesan-Nya, Allah menggunakan bahasa mutasyabihat dalam bentuk tamsil dan symbol (al- matsal wa al- ramz) yang bersifat universal, untuk membangkitkan kembali daya tangkap spiritualnya. Hemat penulis, bentuk tamsil dan symbol dari ayat-ayat mutasyabihat tersebut tidak semata bersifat universal namun juga sifatnya yang faktual dan aktual. Hal tersebut bisa kita buktikan dari semua jenis binatang yang dijadikan matsal dalam Al- Quran, seperti onta, keledai, laba-laba, lebah, anjing dan sebagainya, semuanya sangat factual dan actual dalam arti semua binatang tersebut masih dapat kita jumpai secara mudah hingga hari ini, jadi bukan binatang yang dapat punah. Karenanya, manusia setiap saat, dari zaman ke zaman dapat selalu mengambil ‘ibroh (pelajaran) dari matsal dan romza Al- Quran yang begitu indah.
Dari gambaran singkat di atas, jelas bahwa ayat-ayat alam dalam Al- Quran termasuk ayat mutasyabihat, yang mayoritas tergolong ayat-ayat makkiyah. Dalam sementara literatur ‘ulumul Quran, ayat-ayat mutasyabihat hanya dikaitkan dengan huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surat Al- Quran seperti alif-lam-mim dan hal-hal yang bersifat ghoib.
Dalil yang sering dijadikan dasar argumentasi mereka adalah, “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al- Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang alin (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya lebih condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya. Dan tiada yang mengetahui ta’wilnya (ayat-ayat mutasyabihat) kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semua itu dari sisi Rob kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari ayat mutasyabihat) kecuali orang-orang yang cerdas” (QS. Ali ‘Imran (3): 7).
Mayoritas ahli tafsir –khususnya ulama salaf dan sebagian ulama khalaf— mengatakan bahwa makna ayat-ayat mutasyabihat hanya Alloh semata yang tahu, meski Al- Quran sendiri membantahnya. Memang betul yang mengetahui ayat-ayat mutasyabihat hanya Allah, tetapi jika orang yang beriman mengatakan bahwa ayat-ayat mutasyabihat –seperti pada akwan itu— semuanya dari Allah, maka tidak ada yang dapat memahami maknanya illa (kecuali) ulul albab; orang-orang yang cerdas. Artinya, masih ada orang yang dapat memahaminya meski hanya segelintir orang saja.
Jika sampai hari ini banyak ahli yang belum mampu memecahkan makna dari ayat-ayat alam (mutasyabihat), itu karena Alloh belum berkehendak dan ridho kepadanya. Atau dalam bahasa Al- Quran, “yudhillu bihi katsiiron wa yahdiy bihi katsiiron; Dengan perumpamaan (ayat mutasyabihat) itu banyak orang yang disesatkan Alloh dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya hidayah” (QS. al Baqarah (2): 26). Artinya, mereka bukanlah ulul albab sejati, sehingga “berlindung” di balik kata “tawadhu’” atau kalimat “wallohu a’lamu bish showab ”. Ingat, Al- Quran adalah Kitab petunjuk buat manusia, maka jika anda mengatakan bahwa ada ayat-ayat atau huruf-huruf yang tidak mampu dipahami maknanya oleh manusia, berarti ayat-ayat dan huruf-huruf tersebut tidak memiliki nilai petunjuk. Karenanya, dia adalah hal yang sia-sia (bathil) padahal Allah tidak pernah mencipta satupun mahkhluq yang bathil.
Demikian kajian singkat penulis dalam mencerdasi dan mencermati sajian bahasa dan bahasan Al- Quran yang begitu indah, ilmiah, dan sistematis. Hanya mereka yang tidak memahami esensi dan frame Al- Quran, baik yang turun pada periode makkiyah maupun madaniyah, yang ber-zhann bahwa Kitab Suci Al- Quran tidak sistematis. Kiranya kajian ini dapat mengantar kita untuk mengkaji ulang ayat-ayat kawniyah dalam rangka memahami dan mengaktualisasikannya dalam misi da’wah dan jihad. Semoga !!!
BELAJAR DARI TRADISI PENCIPTAAN MANUSIA
Lima ayat pertama dari Alquran surat al- ‘Alaq (96) –yang diyakini mayoritas ulama sebagai lima ayat paling pertama turun kepada Muhammad- sudah mengisyaratkan adanya hukum kehidupan (sunnatullah) proses penciptaan pada setiap manusia, tanpa kecuali. Pada ayat kedua dikatakan, “Dia telah mencipta manusia dari ‘alaq; sejak melekat; bergantung”. Mayoritas ulama menafsirkan kata ‘alaq dengan segumpal darah yang beku (al- dam al- jamid; the clot). M. Quraish Shihab (1995: 57) menerangkan, ada tiga periode dalam proses kejadian manusia menurut embriologi; periode ovum (menurut Alqur’an tahap nuthfah dan ‘alaqah), periode embrio (tahap mudhghoh), dan periode foetus (tahap izhâman dan lahman).
Dari segi bahasa maupun sunnatullah pada embriologi, penafsiran tersebut tidak actual. yaitu proses bertemunya sel sprema dengan ovum (sel telur) untuk saling melekat (implantasi), ketergantungan antar kedua sel tersebut, yang menentukan hamilnya seorang ibu. Sel terdiri dari plasma sel dan inti sel yang berada di tengahnya. Plasma tersebut berisi organel-organel seperti ribosom, mitokondria, dan lisosom. Di dalam initi sel terdapat kromoson-kromoson yang tersusun dari banyak gen yang berbentuk untai dobel yang saling melilit. Para ilmuwan, tulis Baiquni (1997: 185-202), sudak sejak lama meyakini bahwa apabila suatu sel membelah menjadi dua, proses itu (fithrah; pembelahan) didahului oleh pembelahan kromoson dan kemudian inti sel trbelah menjadi dua membawa kromoson masing-masing yang diikuti pembelahan oleh seluruh sel. Gen-gen dalam kromoson itu mengendalikan sifat-sifat makhluq yang mengandungnya, misalnya, warna dan bentuk rambut, warna mata, dan sebagainya. Berdasarkan fakta ilmiah tersebut, sangatlah ironi bila ada doktrin Islamisme atau mitos agamis di kalangan ibu-ibu hamil yang dianjurkan membaca surat Yûsuf dan Maryam agar anaknya kelak saat lahir menjadi ganteng dan cantik (secara biologis), meski gen orang tuanya tidak mendukung hal itu.
Digunakannya kata ‘alaq atau ‘alaqah dalam proses penciptaan manusia adalah saat di mana nuthfah (sperma laki-laki) sudah masuk ke dalam ovum. Sel telur kemudian dibuahi pada dinding rahim. Kepastian terjadinya proses kehamilan dimulai dari terjadinya pelekatan atau menempelnya sel telur yang telah dibuahi itu pada dinding rahim ibu. Jika penempelan ini lepas, yang terjadi adalah menstruasi atau keguguran.
Pada ayat tersebut dinyatakan bahwa penciptaan itu disebutkan dari tahap ‘alaqah menekankan detik yang menentukan dari proses terciptanya manusia. Hal ini juga mengisyaratkan ketergantungan manusia kepada ibunya. Ibunyalah yang dijadikan sarana (syarat) oleh Allah di dalam Dia mencipta setiap manusia, tidak terkecuali Adam as dan Isa al- Masih. Oleh sementara ulama—Yahudi, Nasrani dan Islam—berpendapat bahwa penciptaan manusia pertama terjadi di alam surga dengan proses yang sangat irrasional dan tidak sesuai dengan sunnatullah. Di antaranya, al- Jubâ’î yang mengatakan bahwa manusia diciptakan di surga yang terletak di langit ke tujuh (di luar planet bumi) sebelum diturunkan ke bumi. (Fakhru al- Râzî, 1990: 452). Pendapat ini tidak sejalan dengan sains karena makhluq biologis menuntut syarat tertentu untuk dapat bertahan hidup. Dari semenjak awal proses penciptaannya, manusia belum pernah punah, dari segi ini dapat disimpulkan bahwa kehidupan makhluq biologis –manusia-belum pernah mengalami transformasi dari planet lain (semacam surga) ke planet bumi.
Meskipun di beberapa ayat lain, Allah menegaskan bahwa penciptaan manusia berasal dari air (QS. al- Anbiyâ (21): 30; an- Nûr (24): 45; al- Furqân (25): 54). Dikatakan dari air karena memang kehidupan manusia ini bisa berkembang dan tumbuh bagaikan tumbuhan (QS. Nûh (71): 17-18) disebabkan adanya air. Dunia sains membuktikan bahwa seluruh makhluq biologis membutuhkan air. Hanya pada planet yang memiliki cadangan air saja yang memungkinkan untuk dihuni oleh manusia.
Pada ayat yang lain disebutkan bahwa penciptaan manusia berasal dari tanah seperti dalam surat al- ‘An’âm (6):2. Tanah adalah unsure terpenting dari bumi yang di dalam tanah terdapat unsur yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Hewan dan tumbuhan yang dikonsumsi oleh manusia adalah tumbuh dan hidup dari tanah. Karenanya, manusia dikatakan tercipta dari tanah, seperti halnya Adam dan Isa. “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam, Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” maka jadilah dia.” (QS. Ali ‘Imrân (3): 59). Untuk memahami maksud ‘dari tanah’ pada ayat ini, kita harus memakai ayat bantu lainnya yang secara lebih terinci melukiskan proses sunnatullah penciptaan manusia –seperti Adam dan Isa- tersebut.
Menurut Tradisi Tuhan, proses penciptaan manusia selalu melalui enam tahapan (sittati ayyâm), seperti yang difirmankan dalam surat al- Mu’minûn (23): 12-14, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) di dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan ‘alaqah, lalu ‘alaqah itu kami jadikan embrio, dan embrio itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluq yang berbentuk lain (bayi). Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”
1. Dari shulâlah bermutasi menjadi nuthfah ;
2. Dari nuthfah berubah menjadi ‘alaqah ;
3. Dari ‘alaqah berkembang menjadi mudhghoh ;
4. Mudhghoh diberi kerangka ‘izhâman ;
5. Setelah adanya izhâman dibalut dengan lahman ; dan
6. Setelah perkembangan lahman selesai, dia berubah menjadi khalqan âkhar/thiflan (manusia baru). Ringkasnya, proses enam tahap penciptaan manusia dimulai dari nuthfah (sperma), kemudian ber-álaqah, berkembang menjadi mudhghoh (embrio), lalu diberi ‘izhoman (tulang belulang rawan), kemudian diberi lahman (daging), dan pada tahap keenam sempurnalah menjadi khalqan âkhar (bayi).
* * * * *
Di samping bahasan soal proses tradisi penciptaan manusia tersebut, hal yang tak kalah pentingnya untuk dikaji adalah apa nilai wahyunya terhadap tugas kerasulan Muhammad untuk memenangkan dîn al- Islâm (QS. 61/ 9), menjadi Khalifah dunia. Yang pasti Allah mengajarkan hal itu kepadanya –dan tentunya kepada kita hari ini- bukan agar dia menjadi juru rawat, bidan bersalin atau ahli kandungan. Ingat, fungsi dasar dari Kitab Suci Alqur’an adalah sebagai petunjuk jalan keselamatan bagi seluruh manusia tanpa terkecuali. Ayat ini pun pasti dijadikan petunjuk oleh Muhammad di dalam memenangkan sistem Kerajaan Allah dari segala sistem hidup buatan manusia. Memimpin ummat sampai kepada fajar kebangkitan Peradaban Langit dalam Kerajaan-Nya. Sebagai petunjuk di dalam “mencipta” kondisi jannah di mana hukum Allah dijadikan sebagai satu-satunya sumber hukum hidup dan kehidupan.
Apa hubungan proses sittati ayyâm penciptaan manusia dengan peredaran kebangkitan Dunia Islam? Penegasan kebangkitan Ummat Islam (sebagai suksesi peradaban batil ke peradaban haq) berlangsung seperti proses penciptaan manusia termaktub di dalam surat Luqmân (31) ayat 28; “Penciptaan dan kebangkitan kamu sekalian itu tak ubahnya seperti cerita Allah menciptakan satu diri, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat”. Artinya, cerita (tahapan) tentang penciptaan (alam dan manusia) itu adalah sebuah tradisi (sunnah), yang harus diaktualisasikan dalam menciptakan kamu sekalian sebagai sebuah ummat (bangsa) yang nanti akan menjadi dewasa. Artinya, kejadian dan kebangkitan kamu kalian (sebagai ummat; bangsa yang beradab dan berdaulat) tak ubahnya seperti Allah menciptakan seorang manusia dari suatu zat yang sangat sederhana.
Demikianlah ‘ibroh; pelajaran penting yang harus dicerdasi dan diikuti oleh para aktivis pembebasan sebagai metode dalam menegakkan kembali sistem Langit (Kerajaan Allah). Bukan dengan cara berteriak-teriak di jalan sambil menggelar spanduk atau terus berda’wah tanpa visi dan misi yang jelas dan haq. Ingat! Hal ini adalah paten, tak bisa ditawar-tawar. Jadi, segala bentuk gerakan (perjuangan) apapun yang nampak di permukaan hari ini tidak akan pernah berhasil dengan aman dan sukses sampai ke titik tujuan, bilamana tidak mengikuti sunnah Rasul di atas. Aqidah penulis, lebih baik perjuangan tersebut mundur ke fase awal –dengan da’wah secara sirron (selektif), ketimbang terus maju bergerak tanpa menuai hasil yang pasti. Ini adalah salah satu jawaban Allah kenapa perjuangan ummat Islam di seluruh belahan dunia, hingga hari ini terus mengalami kegagalan demi kegagalan, tidak diridhoi dan dicintai oleh Allah. Padahal kalau pergerakan itu betul-betul haq, wajib bagi-Nya menolong orang-orang mu’min. Renungkan Alqur’ân surat al- Isrâ (17): 81; surat Yûnus (10): 103; surat ar- Rûm (30): 47; dan surat Muhammad (47): 7
Sudah saatnya kita bercermin dari kegagalan-kegagalan para pendulu yang berjuang untuk kebangkitan Islam tanpa belajar dari tradisi Allah dan tradisi Rasul (sittati ayyâm) sebagai manhaj perjuangan (da’wah dan jihad). Mulai dari seorang diri, Muhammad kemudian berda’wah secara sirron kemudian jahron, akhirnya dia hijrah akibat direfresif oleh penguasa zhalim, menyusun shoff (barisan) militer untuk melakukan beberapa peperangan, hingga akhirnya berhasil menaklukkan Mekah (futuh Mekah), dan memproklamirkan diri sebagai Khalifah. Saatnya kita kembali meluruskan visi dan misi perjuangan. Silakan saudara mengukur haq batil dari suatu gerakan dengan timbangan yang haq pula, bukan mengukurnya dengan praduga dan hayalan subjektif (zhannîy dan amanîy) Anda, apalagi atas ukuran perasaan (like and dislike).
Langganan:
Postingan (Atom)