KEBERSERAHAN DIRI

DAMAI SEJAHTERA

BLOG INI HANYA UNTUK MANUSIA YANG MENDAMBAKAN PERDAMAIAN DUNIA KHUSUSNYA ANAK-ANAK ABRAHAM AGAR TERCIPTANYA SEBUAH SYSTEM KEHIDUPAN KEBERSERAHAN DIRI, DAMAI DAN SEJAHTERAH

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat/firman (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tiada kita abdi kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Minggu, 21 Maret 2010

TUHANKU BUKAN TUHANMU

Sewaktu membaca dan mempelajari referensi kitab-kitab suci, aku menemukan beberapa hal yang berseberangan dengan kenyataan hidup. Bahasa di dalamnya sarat akan makna yang dalam, akupun pada awalnya tidak menikmati ketika membaca edisi dalam bahasa yang kumengerti. Kebanyakan darinya mengutarakan sebuah idealisme yang seolah jauh dari pemikiran orang banyak, jauh dari kenyataan. Too good to be true- terlalu sempurna untuk menjadi nyata, mungkin begitu yang terbesit dalam benakku pada awalnya.

Kisah-kisah orang terdahulu yang secara eksplisit (tersurat) penuh dengan kejadian-kejadian ajaib. Membanting tongkat menjadi ular, membelah lautan dengan pukulan tongkat, dibakar api tetapi merasa dingin, masuk ke perut ikan raksasa malah tenang berdoa, semuanya menyisakan tandatanya besar bagiku. Tetapi berulangkali pula aku menemukan pernyataan bahwa fenomena-fenomena itu diungkapkan untuk direnungkan oleh manusia agar bisa mendapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

Di dalamnya banyak ancaman-ancaman; kalau tidak begini, akan dimasukan kobaran api yang menyala (neraka). Berbuat itu, akan disiksa selamanya. Bahkan ada sebuah hari yang diancamkan akan menjadi moment pembalasan Tuhan bagi manusia-manusia yang melanggar larangan Nya dan melalaikan perintah Nya, hari akhir dari semua kehidupan segala makhluk. Pada hari itu, yang berdosa akan diceburkan ke dalam api yang membara. Yang pahalanya banyak akan duduk di sofa teduh penuh pelayanan.

Lucunya lagi ketika ku baca referensi dari buku lain, ada pendapat yang mengatakan bahwa semua umat manusia masuk neraka dahulu, tetapi yang pahalanya banyak maka tidak berlama-lama di neraka. Sedangkan yang dosanya banyak maka akan mengontrak di neraka berabad-abad. Pertanyaannya: Kalau begitu, buat apa manusia melaksanakan perintah Nya kalau ujung-ujungnya masuk neraka? Pantas begitu banyak koruptor yang merasa tenang mencuri hak rakyat, karena menurutnya telah membuat sarana ibadah sebagai tabungan pahala ketika mati nanti, walaupun itu dari uang hasil mencuri tadi. Langsung kumusiumkan buku lain itu sejajar dengan buku lawakan yang hanya bisa menggelitik perut.

Dikala banyaknya benturan kisah di dalamnya dengan kenyataan, sempat aku berfikir untuk memilah ayat yang masih mungkin diterapkan hari ini. Tiba-tiba kutemukan ayat yang mengharuskan untuk berperang, memenggal kepala orang-orang yang menolak ajaran Tuhan, membunuh orang-orang yang berkhianat pada ajaran Tuhan. Wah-wah… mungkin ini yang ditelan oleh sekelompok orang yang melakukan tindakan destruktif belakangan ini, fikirku. Karena orag-orang beriman yang dikisahkan di dalamnya tidak pernah berbuat demikian. Lantas meniru siapa mereka?

Disisi lain, banyak pula orang yang memilah-milah prinsip yang dinyatakan secara moderat. Yang cocok dengan tuntutan zaman dan tidak destruktif itu dipakai, bahkan dibesar-besarkan. Berbuat baik, saling menolong, bergotong royong, berututur kata santun, dan segala perbuatan yang hari ini dianggap diterima manusia kebanyakan, itu yang dipakai. Sedangkan ayat-ayat yang keras dan tegas serta yang memusatkan pengaturan manusia secara ekonomi-politik-sosial-budaya hanya oleh Tuhan, itu disimpan di atas lemari sebagai penangkal gendoruwo dan kuntilanak. Tapi, bukankah ada ayat yang mengatakan bahwa manusia harus masuk ke dalam prinsip-prinsip yang diajarkan Nya secara menyeluruh?

Lebih unik, banyak orang yang berlomba-lomba melantunkan bunyi ayat-ayat dengan syahdu, dengan harapan mendapat pahala yang banyak. Karena membunyikan 1 huruf saja mendapat ganjaran 10 kali (entah satuannya apa), bagaimana kalau satu surat didengungkan. Tapi, bukankah ayat-ayat itu adalah prinsip hidup yang diturunkan Nya agar diterapkan oleh manusia? Kenapa dilempar lagi kepada yang menurunkan? Jika ada majikan menyuruh seorang pembantunya: “Mas, tolong cuci mobil.” Kemudian sang pembantu mengucapkan perintah yang sama kepada majikannya: “Mas, tolong cuci mobil.” Saya yakin pembantu itu akan dimarahi bahkan bisa ditempeleng karena berlaku tidak sopan kepada majikannya.

Kitab suci adalah kumpulan prinsip-prinsip hidup yang harus diberlakukan oleh manusia sebagai petunjuk agar dapat menebarkan kebajikan kepada setiap makhluk di hadapannya. Maka segala yang termaktub di dalamnya tidak akan berlawanan dengan hukum-hukum alam, karena manusia hidup berwadahkan alam. Jika manusia kelakuannya berlawanan dengan alam, maka ia akan seperti duri yang menyusup dalam tubuh. Manusia akan dikeluarkan secara otomatis dari makro sistim ini. Mengapa kitab itu disebut suci? Karena ia berasal bukan dari pemikiran manusia. Buktinya adalah, prinsip yang diajarkan dapat diuji oleh setiap manusia dari berbagai kalangan, dan harus dapat diterima kebenarannya oleh pemikiran manusia, karena kitab suci itu diturunkan untuk dipergunakan oleh manusia, bukan bagi “Casper” di pohon aren.

Kitab suci banyak menggunakan bahasa yang memerlukan pemikiran ekstra untuk mendapatkan esensinya. Mengapa membutuhkan pemikiran ekstra? Karena otak manusia memang dirancang untuk dapat masuk ke dalam alam bahasa Nya. Tetapi ada pula manusia yang tidak mau meluangkan kesempatannya untuk berfikir tentang ajaran di dalamnya. Prinsip yang dianggap layak diolah dalam kesadarannya adalah hal yang tersurat saja (eksplisit). Padahal ayat-ayat dalam kitab suci akrab dengan bahasa Tersirat (implisit), bahasa yang memiliki arti di balik yang tersurat.

Banting tongkat jadi ular, dianggap tongkat layaknya dijual di Malioboro Yogya. Dibakar tapi aman-aman saja, dianggap layak seperti debus dari banten. Akibatnya, pemahaman yang didapat menjadi dangkal, tak dapat diterapkan pada kehidupan. Padahal berkali-kali Tuhan menantang manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami ayat-ayat Nya.

Karena yang ditangkap hanyalah yang tersurat, dan ayat yang tersirat tidak dapat ditembus, ajaran-ajaran Nya berkuasa hanya di tempat-tempat ibadah saja. Sedangkan ketika bergelut dalam dunia profesional, ia akan kembali menjadi layaknya seekor singa yang menyibakkan keganasan rumbainya, dengan dalih bahwa dunia dan akhirat itu harus seimbang. Dunia adalah sisi gelap yang menggoda, sedang akhirat adalah sisi terang yang menyelamatkan manusia. Pertanyaannya, kalau dunia itu dianggap sisi gelap, dan akhirat adalah sisi terang, apakah Tuhan juga mengajak ke sisi gelap? Tuhan tidak pernah sedetikpun mengajak manusia untuk menghempaskan diri ke sisi gelap, tetapi senantiasa menyelamatkan manusia ke sisi terang dengan konsep hidup yang azasi. Itupun bagi manusia yang mau diselamatkan.

Tuhan tidak pernah mengajarkan sebuah prinsip hidup yang saling bertentangan. Satu sisi memerintahkan untuk melaksanakan kebajikan, satu sisi membolehkan kemungkaran. Tuhan tidak pernah mengajarkan agar manusia sibuk hanya dengan pujian-pujian bahkan ayat-ayat yang dikembalikan kepada Nya. Tuhan tidak pernah mengajarkan untuk menganiaya manusia lain sementara visi dan misi nya belum diketahui oleh umat manusia. Tuhan tidak pernah mengajarkan untuk melakukan bunuh diri bagi munculnya sebuah visi spiritual dogmatis dikala prinsip-prinsip yang diajarkannya hanya diperlakukan sebagai pemanis bibir dalam melakukan ritualisme.

Tetapi Tuhan mengajarkan kepada manusia agar menggunakan ayat-ayatnya untuk membaca alam semesta, termasuk tren psychologis manusia pada masa yang akan datang dengan menggunakan kisah-kisah masa lalu yang diceritakan dalam kitab suci. Manusia cenderung hendak mengambil hak Nya sebagai satu-satunya pengatur bagi kehidupan manusia lain menurut caranya sendiri.

Walaupun mendapat cercaan, hinaan, bahkan siksaan badan, manusia harus tetap teguh untuk menyampaikan apa yang menjadi visi dan misi Nya terhadap umat manusia, tidak terbatas kepada orang-orang yang memiliki istilah penyebutan akan Dia. Sehingga pertikaian dan penganiayaan yang berdasarkan perbedaan penyebutan akan Tuhan, dapat diredam. Tak ada lagi istilah Tuhanmu bukan Tuhanku, tetapi Ia adalah yang memiliki karakter integral (tauhid) dalam segala hal, apapun penyebutan Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar