KEBERSERAHAN DIRI

DAMAI SEJAHTERA

BLOG INI HANYA UNTUK MANUSIA YANG MENDAMBAKAN PERDAMAIAN DUNIA KHUSUSNYA ANAK-ANAK ABRAHAM AGAR TERCIPTANYA SEBUAH SYSTEM KEHIDUPAN KEBERSERAHAN DIRI, DAMAI DAN SEJAHTERAH

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat/firman (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tiada kita abdi kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Senin, 22 Maret 2010

BELAJAR DARI TRADISI PENCIPTAAN MANUSIA

Lima ayat pertama dari Alquran surat al- ‘Alaq (96) –yang diyakini mayoritas ulama sebagai lima ayat paling pertama turun kepada Muhammad- sudah mengisyaratkan adanya hukum kehidupan (sunnatullah) proses penciptaan pada setiap manusia, tanpa kecuali. Pada ayat kedua dikatakan, “Dia telah mencipta manusia dari ‘alaq; sejak melekat; bergantung”. Mayoritas ulama menafsirkan kata ‘alaq dengan segumpal darah yang beku (al- dam al- jamid; the clot). M. Quraish Shihab (1995: 57) menerangkan, ada tiga periode dalam proses kejadian manusia menurut embriologi; periode ovum (menurut Alqur’an tahap nuthfah dan ‘alaqah), periode embrio (tahap mudhghoh), dan periode foetus (tahap izhâman dan lahman). 

Dari segi bahasa maupun sunnatullah pada embriologi, penafsiran tersebut tidak actual. yaitu proses bertemunya sel sprema dengan ovum (sel telur) untuk saling melekat (implantasi), ketergantungan antar kedua sel tersebut, yang menentukan hamilnya seorang ibu. Sel terdiri dari plasma sel dan inti sel yang berada di tengahnya. Plasma tersebut berisi organel-organel seperti ribosom, mitokondria, dan lisosom. Di dalam initi sel terdapat kromoson-kromoson yang tersusun dari banyak gen yang berbentuk untai dobel yang saling melilit. Para ilmuwan, tulis Baiquni (1997: 185-202), sudak sejak lama meyakini bahwa apabila suatu sel membelah menjadi dua, proses itu (fithrah; pembelahan) didahului oleh pembelahan kromoson dan kemudian inti sel trbelah menjadi dua membawa kromoson masing-masing yang diikuti pembelahan oleh seluruh sel. Gen-gen dalam kromoson itu mengendalikan sifat-sifat makhluq yang mengandungnya, misalnya, warna dan bentuk rambut, warna mata, dan sebagainya. Berdasarkan fakta ilmiah tersebut, sangatlah ironi bila ada doktrin Islamisme atau mitos agamis di kalangan ibu-ibu hamil yang dianjurkan membaca surat Yûsuf dan Maryam agar anaknya kelak saat lahir menjadi ganteng dan cantik (secara biologis), meski gen orang tuanya tidak mendukung hal itu.
Digunakannya kata ‘alaq atau ‘alaqah dalam proses penciptaan manusia adalah saat di mana nuthfah (sperma laki-laki) sudah masuk ke dalam ovum. Sel telur kemudian dibuahi pada dinding rahim. Kepastian terjadinya proses kehamilan dimulai dari terjadinya pelekatan atau menempelnya sel telur yang telah dibuahi itu pada dinding rahim ibu. Jika penempelan ini lepas, yang terjadi adalah menstruasi atau keguguran.


Pada ayat tersebut dinyatakan bahwa penciptaan itu disebutkan dari tahap ‘alaqah menekankan detik yang menentukan dari proses terciptanya manusia. Hal ini juga mengisyaratkan ketergantungan manusia kepada ibunya. Ibunyalah yang dijadikan sarana (syarat) oleh Allah di dalam Dia mencipta setiap manusia, tidak terkecuali Adam as dan Isa al- Masih. Oleh sementara ulama—Yahudi, Nasrani dan Islam—berpendapat bahwa penciptaan manusia pertama terjadi di alam surga dengan proses yang sangat irrasional dan tidak sesuai dengan sunnatullah. Di antaranya, al- Jubâ’î yang mengatakan bahwa manusia diciptakan di surga yang terletak di langit ke tujuh (di luar planet bumi) sebelum diturunkan ke bumi. (Fakhru al- Râzî, 1990: 452). Pendapat ini tidak sejalan dengan sains karena makhluq biologis menuntut syarat tertentu untuk dapat bertahan hidup. Dari semenjak awal proses penciptaannya, manusia belum pernah punah, dari segi ini dapat disimpulkan bahwa kehidupan makhluq biologis –manusia-belum pernah mengalami transformasi dari planet lain (semacam surga) ke planet bumi.

Meskipun di beberapa ayat lain, Allah menegaskan bahwa penciptaan manusia berasal dari air (QS. al- Anbiyâ (21): 30; an- Nûr (24): 45; al- Furqân (25): 54). Dikatakan dari air karena memang kehidupan manusia ini bisa berkembang dan tumbuh bagaikan tumbuhan (QS. Nûh (71): 17-18) disebabkan adanya air. Dunia sains membuktikan bahwa seluruh makhluq biologis membutuhkan air. Hanya pada planet yang memiliki cadangan air saja yang memungkinkan untuk dihuni oleh manusia.

Pada ayat yang lain disebutkan bahwa penciptaan manusia berasal dari tanah seperti dalam surat al- ‘An’âm (6):2. Tanah adalah unsure terpenting dari bumi yang di dalam tanah terdapat unsur yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Hewan dan tumbuhan yang dikonsumsi oleh manusia adalah tumbuh dan hidup dari tanah. Karenanya, manusia dikatakan tercipta dari tanah, seperti halnya Adam dan Isa. “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti penciptaan Adam, Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” maka jadilah dia.” (QS. Ali ‘Imrân (3): 59). Untuk memahami maksud ‘dari tanah’ pada ayat ini, kita harus memakai ayat bantu lainnya yang secara lebih terinci melukiskan proses sunnatullah penciptaan manusia –seperti Adam dan Isa- tersebut. 
Menurut Tradisi Tuhan, proses penciptaan manusia selalu melalui enam tahapan (sittati ayyâm), seperti yang difirmankan dalam surat al- Mu’minûn (23): 12-14, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) di dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan ‘alaqah, lalu ‘alaqah itu kami jadikan embrio, dan embrio itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluq yang berbentuk lain (bayi). Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” 
Proses kejadian/penciptaan manusia berlangsung tahap demi tahap secara sistematis, yaitu enam tahapan (sittati ayyâm) penciptaan, yaitu:
1. Dari shulâlah bermutasi menjadi nuthfah ;
2. Dari nuthfah berubah menjadi ‘alaqah ;
3. Dari ‘alaqah berkembang menjadi mudhghoh ;
4. Mudhghoh diberi kerangka ‘izhâman ;
5. Setelah adanya izhâman dibalut dengan lahman ; dan
6. Setelah perkembangan lahman selesai, dia berubah menjadi khalqan âkhar/thiflan (manusia baru). Ringkasnya, proses enam tahap penciptaan manusia dimulai dari nuthfah (sperma), kemudian ber-álaqah, berkembang menjadi mudhghoh (embrio), lalu diberi ‘izhoman (tulang belulang rawan), kemudian diberi lahman (daging), dan pada tahap keenam sempurnalah menjadi khalqan âkhar (bayi). 

* * * * *

Di samping bahasan soal proses tradisi penciptaan manusia tersebut, hal yang tak kalah pentingnya untuk dikaji adalah apa nilai wahyunya terhadap tugas kerasulan Muhammad untuk memenangkan dîn al- Islâm (QS. 61/ 9), menjadi Khalifah dunia. Yang pasti Allah mengajarkan hal itu kepadanya –dan tentunya kepada kita hari ini- bukan agar dia menjadi juru rawat, bidan bersalin atau ahli kandungan. Ingat, fungsi dasar dari Kitab Suci Alqur’an adalah sebagai petunjuk jalan keselamatan bagi seluruh manusia tanpa terkecuali. Ayat ini pun pasti dijadikan petunjuk oleh Muhammad di dalam memenangkan sistem Kerajaan Allah dari segala sistem hidup buatan manusia. Memimpin ummat sampai kepada fajar kebangkitan Peradaban Langit dalam Kerajaan-Nya. Sebagai petunjuk di dalam “mencipta” kondisi jannah di mana hukum Allah dijadikan sebagai satu-satunya sumber hukum hidup dan kehidupan. 

Apa hubungan proses sittati ayyâm penciptaan manusia dengan peredaran kebangkitan Dunia Islam? Penegasan kebangkitan Ummat Islam (sebagai suksesi peradaban batil ke peradaban haq) berlangsung seperti proses penciptaan manusia termaktub di dalam surat Luqmân (31) ayat 28; “Penciptaan dan kebangkitan kamu sekalian itu tak ubahnya seperti cerita Allah menciptakan satu diri, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat”. Artinya, cerita (tahapan) tentang penciptaan (alam dan manusia) itu adalah sebuah tradisi (sunnah), yang harus diaktualisasikan dalam menciptakan kamu sekalian sebagai sebuah ummat (bangsa) yang nanti akan menjadi dewasa. Artinya, kejadian dan kebangkitan kamu kalian (sebagai ummat; bangsa yang beradab dan berdaulat) tak ubahnya seperti Allah menciptakan seorang manusia dari suatu zat yang sangat sederhana. 
Organisasi tubuh manusia merupakan satu kerangka struktur yang terbaik. Allah menyatakan, “Sungguh Kami telah mencipta manusia dalam sebaik-baik bentuk”. Oleh sebab itu, adalah wajar dan rasional jika dijadikan patron berorganisasi (manajemen bernegara) oleh Rasulullah. Sistem kerja fisik tubuh manusia merupakan contoh terbaik dari sistem social. Kehidupan suatu organisasi Negara, sadar atau tidak sadar meniru sistem ini. Dengan demikian, Alqur’an menjelaskan sunnatullah sebagai hal yang matriks atau terukur, terarah dan pasti. Dengan sangat menyesal penulis tidak dapat membahas konsep sittati ayyam secara utuh saat ini di fb. Sebaiknya masalah ini didiskusikan dalam satu pembahasan tersendiri.


Demikianlah ‘ibroh; pelajaran penting yang harus dicerdasi dan diikuti oleh para aktivis pembebasan sebagai metode dalam menegakkan kembali sistem Langit (Kerajaan Allah). Bukan dengan cara berteriak-teriak di jalan sambil menggelar spanduk atau terus berda’wah tanpa visi dan misi yang jelas dan haq. Ingat! Hal ini adalah paten, tak bisa ditawar-tawar. Jadi, segala bentuk gerakan (perjuangan) apapun yang nampak di permukaan hari ini tidak akan pernah berhasil dengan aman dan sukses sampai ke titik tujuan, bilamana tidak mengikuti sunnah Rasul di atas. Aqidah penulis, lebih baik perjuangan tersebut mundur ke fase awal –dengan da’wah secara sirron (selektif), ketimbang terus maju bergerak tanpa menuai hasil yang pasti. Ini adalah salah satu jawaban Allah kenapa perjuangan ummat Islam di seluruh belahan dunia, hingga hari ini terus mengalami kegagalan demi kegagalan, tidak diridhoi dan dicintai oleh Allah. Padahal kalau pergerakan itu betul-betul haq, wajib bagi-Nya menolong orang-orang mu’min. Renungkan Alqur’ân surat al- Isrâ (17): 81; surat Yûnus (10): 103; surat ar- Rûm (30): 47; dan surat Muhammad (47): 7

Sudah saatnya kita bercermin dari kegagalan-kegagalan para pendulu yang berjuang untuk kebangkitan Islam tanpa belajar dari tradisi Allah dan tradisi Rasul (sittati ayyâm) sebagai manhaj perjuangan (da’wah dan jihad). Mulai dari seorang diri, Muhammad kemudian berda’wah secara sirron kemudian jahron, akhirnya dia hijrah akibat direfresif oleh penguasa zhalim, menyusun shoff (barisan) militer untuk melakukan beberapa peperangan, hingga akhirnya berhasil menaklukkan Mekah (futuh Mekah), dan memproklamirkan diri sebagai Khalifah. Saatnya kita kembali meluruskan visi dan misi perjuangan. Silakan saudara mengukur haq batil dari suatu gerakan dengan timbangan yang haq pula, bukan mengukurnya dengan praduga dan hayalan subjektif (zhannîy dan amanîy) Anda, apalagi atas ukuran perasaan (like and dislike).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar