KEBERSERAHAN DIRI

DAMAI SEJAHTERA

BLOG INI HANYA UNTUK MANUSIA YANG MENDAMBAKAN PERDAMAIAN DUNIA KHUSUSNYA ANAK-ANAK ABRAHAM AGAR TERCIPTANYA SEBUAH SYSTEM KEHIDUPAN KEBERSERAHAN DIRI, DAMAI DAN SEJAHTERAH

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat/firman (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tiada kita abdi kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Senin, 22 Maret 2010

MEMBACA ALAM MEMBACA AYAT

Selama ini, sementara ahli hanya membahas sunnatulloh dalam kaitannya dengan hukum akwan secara fisik biologis, yaitu sunnah pada kehidupan alam tetapi melupakan (bahkan tidak memahami) sunnatulloh yang dilukiskan Alloh lewat firman-firman-Nya dalam Kitab-kitab Suci termasuk Al- Quran. Kalaupun pembahasan tentang ayat-ayat alam ini dilakukan, maka para ahli memakai pendekatan disiplin keilmuan masing-masing ahli bukan dalam perspektif Al- Quran sebagai hudan (petunjuk) bagi tugas kerosulan Muhammad saat itu dan relasinya dengan generasi Islam kini dan yang akan datang. Hal ini mengakibatkan, tafsir-tafsir yang ditulis oleh para ahli selama ini belum sanggup membangkitkan spiritual dan minat manusia untuk menjadikan Al- Quran itu sebagai Kitab yang “Hidup” yang dijadikan sebagai wahyu Allah yang instruksional dan actual bagi mereka yang membacanya. 

Sebagai seorang mu’min kepada Kitab-kitab Allah, harus mampu menempatkan dan melihat tujuan sunnatullah pada alam dan ayat-ayat kawniyah (alam) sebagai aayaatin li ulil albab; tanda-tanda bagi orang-orang yang cerdas. Karena fungsi ayat-ayat itu adalah hudan lin naas; petunjuk bagi manusia, maka Allah akan memperlihatkan dan membukakan rahasia ghoib dari makna ayat-ayat kawniyah itu kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah ingin berbicara dan menjelaskan kepada manusia melalui alam dan sunnatulloh di dalam kehidupan manusia, sehingga akan lebih mudah untuk difahami dan diingat bukan sebaliknya. 


Ayat Kawniyah, Ayat Mutasyabihat
Al- Quran banyak bercerita tentang alam, baik yang sifatnya makro maupun alam mikro, yang sebenarnya itu hanya bahasa pengantar dari Allah agar manusia mampu mencermati tentang adanya sunnatulloh di dalam diri dan masyarakat manusia dari zaman ke zaman. Sebagai bahasa pengantar, ayat-ayat alam itu sendiri menyimpan makna sesungguhnya di balik tekstual ayat. Allah ingin mengantarkan manusia kepada pemahaman sesungguhnya dengan memakai ayat-ayat alam yang inderawi, sehingga lebih mudah untuk diingat dan dipahami. Seperti makna kata air sebagai symbol wahyu, langit sebagai symbol dari pemimpin atau penguasa, dan bumi sebagai perumpamaan dari rakyat yang musti dilindungi dan diayomi. 

Bruno Guiderdoni (2006: 62) menjelaskan, demi kontinuitas pesan-Nya, Allah menggunakan bahasa mutasyabihat dalam bentuk tamsil dan symbol (al- matsal wa al- ramz) yang bersifat universal, untuk membangkitkan kembali daya tangkap spiritualnya. Hemat penulis, bentuk tamsil dan symbol dari ayat-ayat mutasyabihat tersebut tidak semata bersifat universal namun juga sifatnya yang faktual dan aktual. Hal tersebut bisa kita buktikan dari semua jenis binatang yang dijadikan matsal dalam Al- Quran, seperti onta, keledai, laba-laba, lebah, anjing dan sebagainya, semuanya sangat factual dan actual dalam arti semua binatang tersebut masih dapat kita jumpai secara mudah hingga hari ini, jadi bukan binatang yang dapat punah. Karenanya, manusia setiap saat, dari zaman ke zaman dapat selalu mengambil ‘ibroh (pelajaran) dari matsal dan romza Al- Quran yang begitu indah. 
 
Dari gambaran singkat di atas, jelas bahwa ayat-ayat alam dalam Al- Quran termasuk ayat mutasyabihat, yang mayoritas tergolong ayat-ayat makkiyah. Dalam sementara literatur ‘ulumul Quran, ayat-ayat mutasyabihat hanya dikaitkan dengan huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surat Al- Quran seperti alif-lam-mim dan hal-hal yang bersifat ghoib. 
Dalil yang sering dijadikan dasar argumentasi mereka adalah, “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al- Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang alin (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya lebih condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya. Dan tiada yang mengetahui ta’wilnya (ayat-ayat mutasyabihat) kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semua itu dari sisi Rob kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari ayat mutasyabihat) kecuali orang-orang yang cerdas” (QS. Ali ‘Imran (3): 7). 

Mayoritas ahli tafsir –khususnya ulama salaf dan sebagian ulama khalaf— mengatakan bahwa makna ayat-ayat mutasyabihat hanya Alloh semata yang tahu, meski Al- Quran sendiri membantahnya. Memang betul yang mengetahui ayat-ayat mutasyabihat hanya Allah, tetapi jika orang yang beriman mengatakan bahwa ayat-ayat mutasyabihat –seperti pada akwan itu— semuanya dari Allah, maka tidak ada yang dapat memahami maknanya illa (kecuali) ulul albab; orang-orang yang cerdas. Artinya, masih ada orang yang dapat memahaminya meski hanya segelintir orang saja. 

Jika sampai hari ini banyak ahli yang belum mampu memecahkan makna dari ayat-ayat alam (mutasyabihat), itu karena Alloh belum berkehendak dan ridho kepadanya. Atau dalam bahasa Al- Quran, “yudhillu bihi katsiiron wa yahdiy bihi katsiiron; Dengan perumpamaan (ayat mutasyabihat) itu banyak orang yang disesatkan Alloh dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya hidayah” (QS. al Baqarah (2): 26). Artinya, mereka bukanlah ulul albab sejati, sehingga “berlindung” di balik kata “tawadhu’” atau kalimat “wallohu a’lamu bish showab ”. Ingat, Al- Quran adalah Kitab petunjuk buat manusia, maka jika anda mengatakan bahwa ada ayat-ayat atau huruf-huruf yang tidak mampu dipahami maknanya oleh manusia, berarti ayat-ayat dan huruf-huruf tersebut tidak memiliki nilai petunjuk. Karenanya, dia adalah hal yang sia-sia (bathil) padahal Allah tidak pernah mencipta satupun mahkhluq yang bathil. 

Demikian kajian singkat penulis dalam mencerdasi dan mencermati sajian bahasa dan bahasan Al- Quran yang begitu indah, ilmiah, dan sistematis. Hanya mereka yang tidak memahami esensi dan frame Al- Quran, baik yang turun pada periode makkiyah maupun madaniyah, yang ber-zhann bahwa Kitab Suci Al- Quran tidak sistematis. Kiranya kajian ini dapat mengantar kita untuk mengkaji ulang ayat-ayat kawniyah dalam rangka memahami dan mengaktualisasikannya dalam misi da’wah dan jihad. Semoga !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar